TANTANGAN PERKAWINAN CAMPUR

Kita tinggal di masyarakat yang plural. Globalisasi telah membuat kita mampu terbang ke belahan bumi yang lain dan bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, termasuk berbeda keyakinan iman. Awalnya, agama-agama yang ada di dunia hanyalah Islam, Yahudi, Katolik, Budha dan Hindu. Kemudian Protestanisme berkembang pesat hingga mencapai 33.000 denominasi. New Age juga menjadi tren kepercayaan masa kini, yaitu dengan mempercayai lamaran bola kristal, horoskop dan ilmu pengetahuan. Di beberapa negara berkembang, aliran kepercayaan yang tidak mempercayai adanya Allah atau Ateisme juga berkembang, dimana orang-orang percaya bahwa dirinyalah yang menentukan kebenaran bagi hidupnya. Dunia ini penuh dengan berbagai macam kepercayaan dan agama! Dengan keadaan dunia yang demikian, tak bisa dipungkiri bahwa kita bisa bertemu dengan berbagai macam orang yang menganut kepercayaan yang berbeda-beda. Kemudian kita bisa jatuh cinta atau tertarik dengan orang yang punya keyakinan iman yang berbeda. Mari kita lihat beberapa skenario kalau seorang muda Katolik yang taat dan bertumbuh dalam imannya, berpacaran dengan orang-orang dari berbagai agama.

Skenario #1 : pacaran dengan seorang Ateis

“Dia tidak punya kepercayaan apa-apa, maka dia pasti dengan mudah bisa dipengaruhi.”

Terkadang memang benar bahwa seorang Ateis tidak punya kepercayaan dan pegangan apa-apa. Kalau orang tersebut cukup rendah hati dan kemudian mau mengakui adanya Allah maka dia bisa mempelajari suatu agama baru dan mempercayainya. Namun, tantangan terbesar adalah ketika orang itu merasa bahwa kebebasannya untuk mempercayai apapun menjadi terbatas ketika dia menganut suatu agama. Dia tidak bisa lagi dengan bebas menyusun nilai moral dan standar kebenarannya. Pandangan seperti ini umum di budaya dunia barat.

Skenario #2 : pacaran dengan seorang dari agama lain (non-Kristen)

“Dia akan pindah ke agamaku nantinya!”

Pindah agama tidak semudah membalik telapak tangan. Apalagi bila keyakinan imannya sudah ditanamkan sejak kecil dalam keluarganya. Iman menjadi bagian dari hidupnya. Mengubah iman seseorang sama saja dengan mengubah diri seseorang. Biasanya hal ini juga akan melibatkan orang tua yang menentang keputusan anaknya untuk berpacaran dengan yang beda agama. Kita harus ingat bahwa pernikahan adalah hubungan seumur hidup yang melibatkan keluarga masing-masing juga. Umumnya, pasangan yang berpacaran dengan beda agama, mengharapkan pasangannya akan berpindah agama mengikuti agamanya sebelum maupun sesudah menikah. Ada pula agama yang tidak mengizinkan pernikahan dengan agama lain. Lalu, bagaimana kalau keduanya mengharapkan pasangannya untuk berpindah ke agama masing-masing? Selanjutnya, pertanyaan yang harus bisa dijawab adalah, apakah kalian bersedia bergantian menghadiri ibadah agama masing-masing? Lebih lanjut lagi, kalian akan membesarkan anak-anak kalian dalam agama apa? Memang, banyak pernikahan beda agama yang berhasil. Namun, bila bagimu iman dan kepercayaan adalah suatu hal yang penting dan mendasar dalam hidupmu, lebih baik berusaha untuk menghindari skenario ini sejak dini.

Oleh Albert Suryadi, Sydney – Australia

Image: @Yesheis Indonesia

2 views0 comments

Recent Posts

See All