Selibat Demi Allah

Seseorang bisa memilih untuk berhubungan seksual dengan banyak orang atau hanya dengan satu orang di dalam sebuah perkawinan atau di luar perkawinan. Maka seorang yang lain juga bisa memilih hidup selibat atau tanpa hubungan seksual. Seseorang bisa menerapkan gaya hidup selibat sementara oleh karena situasi, misalnya karena belum bertemu dengan orang yang tepat dalam hidupnya atau karena belum menemukan pasangan hidup yang baru karena suami atau isterinya telah wafat. Bila demikian maka orang tersebut sebenarnya sedang menerapkan gaya hidup chastity atau kemurnian, hanya dalam jangka waktu tertentu.

Namun seorang yang lain bisa memilih untuk tidak melakukan aktifitas seksual sepanjang hidupnya, artinya menerapkan chastity dalam hidupnya, dengan sebuah motivasi yang sangat mulia: demi Allah. Banyak orang yang tidak paham soal selibat bagi Allah. Bagi mereka yang sudah paham pun, bila mendengar istilah selibat awam maka mereka menjadi tidak paham ketika mengetahui bahwa selibat wam ini bukanlah seorang biarawan atau biarawati melainkah seorang awam yang memang memilih untuk hidup selibat demi Allah. Baik para kaum religius maupun awam yang memilih untuk hidup selibat adalah mereka yang memutuskan untuk selibat bagi Allah secara sadar. Mereka memilih untuk menerapkan gaya hidup tanpa hubungan seksual, yang disebut dengan chastity atau kemurnian, walaupun sebenarnya mereka mampu melakukannya. Hal yang penting digarisbawahi dalam hidup selibat demi Allah adalah soal pilihan, keputusan dan komitmen.

Kalo kamu pernah berpikir atau tertarik dengan panggilan hidup selibat demi Allah maka di bawah ini ada beberapa hal yang bisa diketahui tentang mereka yang memiliki panggilan hidup ini, yaitu:

1. Mereka melakukannya demi Allah. Para selibat adalah mereka yang ingin dan yang rindu untuk mempersembahkan hidup mereka hanya kepada Allah. Persembahan itu akan membawa mereka pada pemberian diri yang lebih baik kepada sesama. Dampak pilihan itu adalah mereka menjadi fokus pada pelayanan dan karya bagi kebaikan sesama. Kita ambil contoh Santo Agustinus, dimana sebelum beliau bertobat dan akhirnya menjadi seorang imam, beliau memiliki seorang anak dari relasi di luar perkawinan. Santo Ignatius Loyola yang mengambil keputusan menjadi selibat di usia yang dewasa padahal beliau dulunya senang mengejar perempuan-perempuan bangsawan yang cantik. Atau mantan artis Holywood terkenal, Dolores Hart, yang memutuskan untuk hidup selibat di puncak karirnya. Kalo kamu tertarik hidup selibat namun tidak tertarik menjadi biarawan atau biarawati, maka kamu bisa mengambil kaul selibat dalam sebuah komunitas yang mendukung panggilan hidup ini. Salah satunya adalah Komunitas Domus Cordis, misalnya.

2. Mereka bukan orang-orang yang sempurna. Para selibat adalah manusia biasa. Mereka juga bisa adalah pribadi-pribadi yang pernah terluka, bahkan dalam pengalaman masa lalu. Pilihan selibat dan pemberian diri kepada sesama membantu mereka untuk menemukan makna hidup dari segala perjalanan yang bisa jadi begitu kelam. Mereka memaknai perjalanan hidup dan berjalan bersama Allah sepanjang hidup.

3. Mereka menerima karunia selibat. Yesus dalam Injil Sinopsis mengajarkan bahwa ada tiga macamorang yang menjadi selibat. Pertama, mereka yang sejak lahir memang terdapat ketidaksempurnaan untuk melakukan hubungan seksual sehingga terpaksa menjadi selibat. Kedua, adalah mereka yang dipaksa menjadi selibat, seperti para kasim yang dikebiri oleh sebuah kerajaan untuk menghindari terjadinya perselingkuhan dengan permaisuri atau selir raja. Sedang yang dimaksud dengan selibat bagi Allah adalah mereka yang memlliki tubuh yang normal, secara sadar atau tanpa paksaan memilih untuk hidup tanpa hubungan seksual dengan motivasi bagi Kerajaan Allah. Pilihan dan motivasi yang benar diteguhkan dalam hidup mereka lewat “gift of celibacy”

Oleh Lidwina Sisilia, seorang selibat awam dan pecinta teologi tubuh

1 view0 comments

Recent Posts

See All