Seks dan Perkawinan

St. Yohanes Paulus II memberikan perspektif tentang makna selibat melalui Theology of the Body (TOB). Beliau menyampaikan bahwa kita tidak dapat memahami seks dan perkawinan kristiani bila kita tidak dapat  memahami makna selibat kristiani. Tentu kamu heran dan bertanya-tanya bagaimana mungkin dengan memahami selibat maka kita akan mengerti tentang seks? Sedangkan para selibat sendiri tidak melakukan hubungan seksual. Namun di sisi yang lain, mereka yang menikah pun apakah bisa sebebas-bebasnya berhubungan seksual? Apakah mereka yang menikah tidak memiliki kebebasan untuk sewaktu-waktu bisa berkata tidak pada hubungan seks? Bila seseorang selalu harus dipenuhi kebutuhan seksualnya terus menerus, maka yang terjadi sebenarnya bukanlah kebebasan seksual melainkan perbudakan libido!

Banyak orang berpikir bahwa pernikahan adalah solusi untuk skandal seksual.  Pemikiran itu adalah gagasan yang keliru. Pernikahan bukan berarti menyediakan “outlet yang sah” untuk hasrat seksual yang tidak teratur. Jika seorang lelaki memasuki sebuah pernikahan dengan memiliki masalah gangguan seksual, maka tidak menutup kemungkinan dalam hidup perkawinannya dia akan menjadikan istrinya sebagai obyek aktifitas seksual. Oleh karena itu baik mereka yang menikah ataupun selibat, hasrat seksual mereka harus mengalami penebusan dalam kuasa kebangkitan Kristus, sehingga mereka tetap bisa mencintai dalam gambar dan citra Allah.  Para lelaki dan perempuan yang memilih dengan bebas untuk membebaskan hasrat seksual mereka demi Kerajaan Allah menunjukkan bahwa mereka tidak terikat oleh libido yang tidak terkendali. Mereka bebas untuk mencintai Allah dan sesama manusia lewat pemberian diri mereka tanpa pamrih. Pemahaman ini tentu sulit dipahami oleh mereka yang terjebak dengan pandangan gaya hidup seks bebas. Bila kemudian mereka berpaling kepada Kristus maka gagasan untuk menjadi selibat seumur hidup menjadi terasa mustahil. Namun bagi mereka yang telah mengalami transformasi dorongan (hasrat) seksualnya ke dalam Kristus, gagasan menjadi selibat seumur hidup bisa diterima dan bahkan menjadi sangat menarik.

Santo Yohanes Paulus II dalam buku Love and Responsibility halaman 46 menuliskan bahwa “pada mulanya” Allah yang memberi kita hasrat seksual menjadi daya kekuatan untuk mencintai di dalam citra Allah lewat pemberian diri yang tulus. Rencana Allah adalah hasrat seksual dimaksudkan untuk melayani dalam perkawinan atau lewat pemberian diri hidup selibat. Ada dua cara untuk memenuhi panggilan mendasar dalam mencintai, yaitu melalui pernikahan atau hidup selibat (bisa dilihat dalam Familiaris Consortio no.11). Panggilan hidup selibat sesungguhnya ingin mengatakan pada dunia bahwa Kerajaan Allah itu hadir di tengah-tengah kita. Panggilan ini bukanlah penolakan terhadap seksualitas dan perkawinan melainkan merupakan partisipasi dalam seksualitas dan perkawinan yang tertinggi, sebagaimana digambarkan dalam Kitab Wahyu 19:7. Bila panggilan hidup ini dinilai lebih baik atau lebih tinggi dari panggilan hidup menikah, hanya untuk mengartikan bahwa kehidupan di Surga itu lebih baik dari pada di dunia ini. Santo Yohanes Paulus II dalam pengajaran Theology of the Body pada tanggal 28 April 1982 mengatakan bahwa berdasarkan pada arti nupsial tubuh yang sama, maka lelaki dan perempuan bisa dibentuk lewat komitmen untuk mencintai seumur hidupnya dalam perkawinan atau mereka dibentuk lewat komitmen seumur hidupnya untuk mencintai lewat kehidupan selibat bagi Kerajaan Surga. Artinya baik panggilan hidup menikah atau selibat, sama-sama dipanggil kepada “cinta dalam perkawinan” yang diungkapkan lewat tubuh. Panggilan hidup selibat bukan sesuatu yang dipaksakan oleh Gereja, tapi diberikan secara bebas oleh Tuhan dan dipilih secara bebas bagi yang  terpanggil. Para imam bertindak sebagai pribadi Kristus yang menghadirkan cinta Sang Mempelai Lelaki Surgawi kepada Gereja dalam setiap perayaan Sakramen Ekaristi. Tanda tahbisan menguduskan mereka untuk melayani Kristus dan Gereja dengan cara yang unik, laksana mereka mengutamakan makna “perkawinan”.

Oleh Tinna Tanius, alumni Advance Program 2016

Sumber: TOB Beginners, Christopher West

2 views0 comments

Recent Posts

See All