Pornografi, Lolipop Bertangkai Pisau

Dulu waktu kuliah, teman-teman kosan ngajakin nonton bokep bareng. Waktu itu, seember besar pakaian kotor kutinggal karena mereka terus memanggilku. Beberapa saat setelah nonton, aku merasa ada yang aneh dalam diriku. Aku nggak tahu itu apa. Lalu, aku keluar dan kembali berhadapan dengan ember pakaian kotorku. Aku memilih melanjutkan mencuci pakaianku daripada terus nonton. Bukan karena filmnya nggak seru dan nggak banyak, tapi aku nggak nyaman dengan perasaan yang muncul saat itu.

Selepas kuliah, aku pindah ke luar kota. Tidak ada lagi hari nonton bokep bersama teman-teman. Rindu? Tidak. Tapi teringat, IYA.

Beberapa tahun lalu, dunia perfilman dikejutkan oleh film kontroversial Fifty Shades of Grey. Ingatan tentang kenangan waktu kuliah, membuatku mengetikkan judul film itu di Youtube. Kutonton trailernya, yang saat itu sudah beredar. Lalu entah bagaimana, aku lupa persisnya, teman-teman baruku dan aku, saling berbagi E-book novel itu. Ya, aku punya ketiga seri novel itu dalam bentuk E-book. Karena aku suka membaca, aku baca ketiganya sampai habis. Rasanya? Menyenangkan. Apalagi bisa berimajinasi sendiri. Sesudah itu, aku baca lagi, lagi, lagi, dan lagi. Sepertinya tak ada hari tanpa memuaskan imajinasi tentang adegan di novel itu. Aku jadi terikat dengannya.

Novel itu jadi penghibur di saat sedih, saat nggak bisa tidur malam, saat aku bahagia, dan saat-saat lainnya. Novel itu bikin aku nggak berdoa sebelum tidur malam. Juga bikin aku berdosa lagi, tatkala seusai berdoa, aku baca lagi novel itu kalo belum bisa tidur.

Kebayang nggak, satu dari seabrek rutinitas harianku adalah membaca novel elektronik itu dan membuat otakku rusak. Ya, rusak. Aku gak bisa berpikir hal lain selain novel itu. Novel itu jadi tempat pelarianku. Tuhan gak ada lagi dalam hari-hariku. Aku makin jatuh tiap harinya. Lamunanku makin parah, kegiatanku pun makin parah.

Sampai suatu hari, entah dari mana asalnya, muncul suatu keinginan dari dalam diri untuk menghentikan hal itu. Awalnya dengan mulai mengurangi jam baca dan baca seri tertentu saja. Tapi ternyata itu nggak cukup. Aku masih suka penasaran sama seri yang lain, yang bikin jam bacanya jadi bertambah dan hampir kembali ke semula. Aku jadi frustrasi. Hingga akhirnya, aku hapus semua seri novel itu. Nggak ada lagi kesempatanku untuk membacanya. Nggak ada lagi pelarian maksiat. Tentu masih ada rasa ingin mencarinya kembali di internet, karena saat itu sudah banyak beredar, tapi dari dalam hatiku ada suara yang bilang “jangan”, dan aku diingatkan dengan efek kurang tidur, efek pikiran buruk, dll yang pernah kualami.

Peringatan itu munculnya lebih sering dan lebih kuat dari hari ke hari, hingga aku kini bebas dari novel itu. Udah gak ada keinginan mencarinya, baik yang versi novel maupun yang film.

Pekerjaan siapa lagi itu kalo bukan Roh Kudus dari Yesus? Bahkan dalam hidup yang penuh hal maksiat, Yesus selalu bersamaku. Aku membayangkan, waktu aku baca novel itu dan menonton filmya, berarti Yesus sedang mengawasiku, menontonku dan wondering kapan aku berhenti. Malu banget nggak sih itu. Dosa banget.

Satu akibat absolut yang aku rasakan saat itu adalah rasa tidak berharganya aku. Aku menjadikan diriku sebagai subjek dan objek pornografi. Aku melukai diriku sendiri. Bukan dengan benda tajam, bukan juga dengan luka fisik, tapi dengan luka mental. Aku jadi kurang menyukai diriku sendiri. Aku bahkan berpikir aku sama dengan orang-orang yang mencari nafkah dengan menjajakan tubuhnya. Bedanya cuma di bagian aku nggak dibayar oleh siapapun. Waktu habis, hati hampa, dan tak ada uang penghibur untuk shopping manja. Pornografi merusak citra diriku dan rasa cintaku terhadap diri sendiri, yang adalah ciptaan mulia Allah.

Sekarang setelah bebas, rasanya damai sejahtera. Pikiran bisa difungsikan untuk hal-hal yang benar dan berguna, waktu gak habis untuk berimajinasi kotor dan sia-sia, hati nggak diisi oleh kesenangan semu. Sekarang aku punya jam doa yang lebih baik. Hubunganku dengan Yesus juga jadi lebih baik. Aku bersyukur, karena Yesus sungguh baik dan murah hati.

Menurutku, semua orang pasti bisa lepas dari pornografi, asal mau dengar dan taat pada suara Yesus yang suruh STOP. Jangan kaget ketika Yesus juga mengamankanmu dari lingkungan yang akan membuatmu jatuh lagi. Bersyukurlah bila temanmu berkurang, karena Yesus akan langsung menjadikan diri-Nya sebagai teman barumu. Yesus akan membawa kamu ke lingkungan yang lebih positif. Yesus nggak akan lepas tangan.

Apakah masih ada akibat yang tertinggal? Ya, aku masih suka mudah baper. Aku sedang berjuang untuk bebas dari ini. Aku berharap, kita akan saling mendoakan untuk pembebasan kita masing-masing dari kemelekatan jahat ini. So, Berani mencoba Berhenti Onani dan KEpoin Pornografi? 😉

Penulis: Katrin

2 views0 comments

Recent Posts

See All