CINTA dan TANGGUNG JAWAB

Pernahkan kamu mencintai seseorang tetapi kamu bingung untuk melanjutkan karena perbedaan agama? Saya pernah mengalaminya. Beberapa tahun lalu, saya mencintai seorang pria, namun karena perbedaan agama, kami bingung bagaimana melanjutkan hubungan kami. Saat itu, kami berniat untuk melanjutkan hubungan kami sampai ke jenjang pernikahan, namun karena perbedaan kepercayaaan itu, kami sama-sama mengurungkan niat itu.

Kami berdua sama-sama menginginkan agar dapat menikah sesuai kepercayaan masing-masing, sehingga setiap kali membahas topik pernikahan, yang terjadi adalah jalan buntu. Beberapa bulan berlalu masih dengan masalah yang sama, kami menemukan jalan buntu setiap kali membahas topik pernikahan. Akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi hubungan kami karena tidak ingin mengorbankan keyakinan kami masing-masing.

Sejak perpisahan itu, saya merenungkan segala sesuatunya lagi. Saya menjadi kapok untuk mencari pasangan diluar keyakinan saya. Saya mulai menyadari indahnya Sakramen Perkawinan yang tidak akan dapat saya hadirkan jika saya menikah dengan pasangan yang berbeda keyakinan. Ditambah lagi semakin banyak teman-teman saya yang sudah melangsungkan Sakramen Perkawinan mereka, dan keindahan itu dapat saya rasakan. Saya semakin diteguhkan untuk mencari pasangan yang seiman dengan saya. Saya ingin juga merasakan keindahan Sakramen Perkawinan layaknya teman-teman saya itu. Keindahan saat mereka berjalan ke altar beriringan, yang dilanjutkan dengan membuat tanda salib dan ritus pembukaan lainnya. Bagian inti yang selalu menyentuh saya adalah Janji Pernikahan yang diucapkan satu sama lain dengan tangan bertumpu pada Kitab Suci. Pada bagian ini, laki-laki dan perempuan dipersatukan Allah hingga maut memisahkan.

“Marital love is a reflection of how God loves. It is free, total, faithful, and fruitful.”(Christopher West)

“Cinta dalam perkawinan adalah cerminan dari bagaimana Tuhan mencintai. Cinta yang bebas, total, setia, dan berbuah. ” (Christopher West)

Saya ingin merasakan seluruh prosesi itu, prosesi yang tidak akan lengkap jika saya memilih untuk menikah dengan pasangan yang berbeda keyakinan dengan saya. Sebuah pernikahan harus selalu menjadi cermin dari cinta Tuhan pada manusia, cinta Yesus pada GerejaNya. Cinta itu harus bebas, total, setia, dan berbuah. Yesus bahkan setia hingga mati di salib.

Oleh Lucia Wahyuni, alumni Adorable Eve Reviewed & edited by Ika Sugianti – Tobit Faculty Member

0 views0 comments

Recent Posts

See All