Blogs
01/03/2021
  • Share this

Berapa banyak di antara kita yang pernah menghabiskan banyak uang di kafe mahal hanya agar bisa dipamerkan di laman media sosial? Berteman dengan orang-orang yang bergaya hidup mewah agar mendapat pengakuan dari sekitar, padahal dompet tidak cukup kuat untuk menanggung gaya hidup itu. Atau merasa diri tidak berarti jika tidak ada gandengan, sehingga setiap hari sibuk swipe left/right di situs-situs online dating. Kalau mau jujur, kita pernah melakukan satu hal yang demikian, atau mungkin semuanya. Bahkan mungkin sampai sekarang kita masih melakukannya. Pengakuan dari orang lain menjadi bahan bakar mood atau jalan hidup kita karena merasa diri sendiri tidak cukup. Ketika telah diakui orang lain, kita baru merasa dicintai.

Setiap manusia, jauh dalam hatinya, membutuhkan cinta. Kebutuhan akan cinta diibaratkan seperti smartphone yang perlu di-charge setiap hari karena sering digunakan. Jika kebutuhan cinta seseorang tidak terpenuhi, orang tersebut akan mengalami kekosongan batin dan membutuhkan perhatian. Akibatnya, orang sering kali mengisinya dengan cara yang salah, misalnya dengan mencari pengakuan diri yang instant dari media sosial. Like, love, dan comment dari followers menjadi sumber daya baru untuk mengisi ulang atau charging hati yang kosong. Banyak orang berlomba-lomba mengisi hatinya dengan cara seperti ini dan terlena dalam kepenuhan yang semu.

Pertanyaannya, mau berapa lama kita berada dalam kepenuhan cinta yang semu? Usia akan bertambah dan musim kehidupan akan terus berubah. Sampai kapanpun, hati kita tidak akan penuh dengan cinta jika kita tidak mulai mencari sumber pengisian cinta yang benar. Sama seperti smartphone, baterainya memang akan terisi penuh meskipun di-charge dengan charger yang palsu. Akan tetapi, lambat laun smartphone tersebut akan rusak karena charger yang palsu tidak memenuhi semua kebutuhan originalnya. 

Setidaknya ada tiga sumber pengisian tangki cinta yang benar dan asli, yaitu dari Tuhan, sesama atau orang yang dekat dengan kita, dan dari diri kita sendiri. Rahasia cinta ini harus dicari dan ditemukan agar kita dipenuhi oleh cinta yang utuh dan asli, tidak lagi berada dalam kepenuhan cinta yang semu. Simak detail ketiganya di bawah ini.

 

I. Tuhan sebagai sumber cinta abadi

Pengisian tangki cinta dari Tuhan digambarkan dalam kisah percakapan Yesus dengan Perempuan Samaria yang hendak menimba air untuk minum (bdk. Yoh 4: 1-42). Perempuan itu tadinya sangat kehausan cinta, ia mencari cinta di sumber yang salah, yaitu dari laki-laki yang bukan suaminya. Setelah perempuan itu bertemu Yesus di sumur, ia menemukan sukacitanya. Lalu ia pergi dengan membawa sukacita (kepenuhan cinta) dan meninggalkan tempayan airnya di sumur; bukan karena ia lupa melainkan karena ia sudah mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari air minum yang diperlukannya, yaitu cinta kasih Tuhan. Ia yang telah kepenuhan sukacita, kini dapat mentransfer sukacitanya kepada orang lain dan mewartakan Yesus kepada banyak orang.

Betapa dahsyatnya kekuatan cinta Yesus yang sanggup mengisi dan memberikan kelegaan dalam hati kita. Sukacita kepenuhan cinta yang dialami perempuan Samaria juga dapat kita alami jika kita mau datang pada Yesus dan membiarkan-Nya mengisi hati kita. Tuhan Yesus tidaklah jauh, Ia sangat dekat pada kita, dan Ia telah berada dalam hati kita. Sering kali kita tidak menyadari kehadiran-Nya karena kita sudah terlalu sibuk mencari cinta di tempat yang salah; kita sibuk dengan urusan duniawi yang menyebabkan hati kita sangat bising. Namun, kita dapat menemukan kembali Yesus melalui berdoa, membaca firman, dan nyanyian rohani. 

 

II. Cinta dari sesama atau orang yang dekat dengan kita

Manusia adalah makhluk sosial. Artinya kita membutuhkan satu sama lain dalam peziarahan kita di dunia ini. Kekosongan tangki cinta kita dapat diisi melalui relasi dengan sesama atau orang terdekat dengan kita seperti keluarga, teman, dan pasangan. Namun, relasi yang dibangun haruslah relasi yang sehat dan murni berdasarkan kasih, bukan relasi yang hanya ingin mementingkan diri sendiri. 

Dr. Gary Chapman mendefinisikan lima bahasa cinta yang dimiliki oleh setiap orang, sebagai berikut:

  1. Hadiah (gifts) – Bukan nilai atau jenis barangnya yang dipentingkan, melainkan pengalaman menerimanya sebagai ungkapan bahwa orang yang memberikan hadiah itu mencintai dan mengingat diriku.
  2.  Kata-kata yang memberi peneguhan (words of affirmation) – Tidak perlu yang muluk-muluk dan tinggi-tinggi, tetapi satu atau dua kata yang meneguhkan dan tulus (bisa berupa sebuah ucapan terima kasih dan pujian).
  3. Tindakan pelayanan (acts of service) – Tidak perlu tindakan besar, tindakan yang sederhana pun bisa membuat orang sungguh merasa berarti. Misalnya seorang suami membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah.
  4. Waktu yang istimewa (quality time) – Orang-orang dengan bahasa cinta quality time sangat menyukai waktu yang disediakan secara khusus dengan perhatian yang terfokus untuk kedua belah pihak. Misalnya candlelight dinner, waktu curhat, dan sebagainya.
  5. Sentuhan fisik (physical touch) – Sentuhan yang dimaksud tentunya tidak bermaksud sebagai pelecehan, tetapi yang membuat orang merasa dicintai dan aman. Contohnya pelukan, mengelus kepala, mencium kening, menggandeng tangan, dan lain-lain.

Uniknya, bahasa cinta setiap orang berbeda-beda. Oleh karena itu, kita perlu memerhatikan bahasa cinta sesama agar tangki cinta setiap orang dapat terisi dengan cara yang tepat. Menjalin relasi dengan sesama merupakan salah satu bentuk cinta karena dengan berelasi, kita dapat memahami dan mengasihi sesama. Tindakan memerhatikan dan mengasihi sesama inilah yang dapat memenuhi kebutuhan cinta kita karena orang yang kita perhatikan dapat mentransfer sukacitanya kepada kita dan sebaliknya.

 

III. Cinta dari diri sendiri 

Kita semua adalah pribadi yang berharga di hadapan Tuhan. Tuhan bahkan menciptakan kita serupa dengan gambaran-Nya sendiri. Pribadi-Nya yang Maha atas segalanya dibagikan kepada kita satu per satu, sehingga tidak ada orang yang tanpa kelebihan dan keunikan, sebagai warisan dari gambaran-Nya. Salah satu gambaran Allah yang paling menonjol ialah kasih. Kasih-Nya telah ada dalam diri kita dan berfungsi sebagai bahan bakar kita untuk mengasihi Tuhan, orang lain, dan diri sendiri.

Pemenuhan tangki cinta dari diri kita sendiri dilakukan dengan cara meluangkan waktu untuk diri sendiri, misalnya mengerjakan hal-hal yang kita suka dan mengembangkan potensi diri kita. Dengan demikian kita dapat melihat keunikan kita dan menjadi semakin menyukai diri sendiri. Kita tidak dapat mengasihi diri sendiri jika kita tidak menyukai diri kita apa adanya. 

Jadi, sekarang sudah tahu bedanya, kan? Sesenang apapun perasaan kita saat foto kita di media sosial mendapatkan banyak like, akan bisa berakhir begitu saja, tak berbekas. Kepenuhan cinta yang sejati hanya dapat terjadi jika kita mau membuka diri terhadap rahasia cinta ini dan mencoba memulainya. 

Sobat TOB, tabir rahasia cinta kini sudah terbuka, selanjutnya tinggal kita yang memutuskan mau menjalaninya atau tidak. Semoga pilihanmu membawa dirimu pada kepenuhan cinta yang sejati.

Penulis: Tim TOB

Sumber: https://tinnawati.wordpress.com/2016/10/23/rahasia-cinta/ dengan beberapa penyesuaian.