Blogs
24/10/2020
  • Share this

Kalau kamu ditanya “Siapa pacarmu sekarang?”, hal apa yang langsung terlintas di pikiranmu tentang pacarmu? Apakah fisiknya yang rupawan, pekerjaan/pendidikannya yang baik, atau perlakuan manisnya padamu? Kris Frank, salah seorang pembicara pada konferensi TOB Virtual Conference 2020 bulan Mei lalu, mengatakan bahwa siapa pacar kita adalah hal yang sangat penting, bahkan lebih penting daripada mengonsep bagaimana kita akan berpacaran. Siapa pacar kita akan menentukan jalannya hubungan itu ke depannya.

Menurut Kris Frank, ada 3 kriteria utama dalam memilih pacar. Yuk, kita simak dan cari tahu apakah selama ini kita sudah menerapkannya atau belum.

 

  1.   Relasi yang intim dengan Tuhan

Syarat paling dasar dalam memilih pacar adalah dia harus punya relasi yang intim dengan Tuhan. Keintimannya dengan Tuhan dapat kita lihat melalui kehidupan doanya dan intensitas membaca Alkitab setiap hari. Kalau seseorang dekat dengan Tuhan, hatinya akan dipenuhi oleh kasih Tuhan yang akan memampukan dia mengasihimu seperti Tuhan telah lebih dahulu mengasihinya. Hanya seseorang yang hatinya penuh kasih yang tahu bagaimana cara memberi kasih. Dia mungkin bukan seorang yang suci, yang hidupnya tak bercacat, tetapi dia akan selalu berusaha mendekatkan dirinya kepada Tuhan. 

Penting diingat bahwa bukan berarti kita dapat berpacaran dengan siapa pun asalkan dia dekat dengan Tuhan. Sebagai seorang Katolik, penting bagi kita untuk berpacaran dengan seorang Katolik juga. Kenapa? Karena kalau kita berpacaran dengan yang tidak seiman, kita  akan mengalami kesulitan dalam  menyesuaikan diri. Tiap keyakinan memiliki ideologi, filosofi, dan teologi masing-masing, termasuk pola pikir yang kadang sangat berbeda dengan kita Bayangkan jika kita dan si doi tidak bisa berdoa bersama, tidak bisa berdiskusi tentang doa Novena, atau tidak bisa memecahkan masalah bersama karena pegangan dan cara pandang doi yang berbeda.

Jadi, carilah seseorang yang hidup dekat dengan Tuhan dan kita perlu memastikan bahwa Tuhannya adalah Yesus yang kita imani dan Gerejanya adalah Gereja Katolik yang kita taati.  Bangunlah relasi personal yang intim dengan Tuhan agar kita bersama pacar bisa berjalan bersama menuju kekudusan. Hubungan yang berbeda keyakinan bisa saja terjadi, tetapi akan ada banyak kompromi dan kesulitan yang mungkin akan berujung pada perpisahan. Kalau dari awal sudah terlihat kemungkinan berpisah karena beda keyakinan, untuk apa dijalani?

 

  1.   Berintegritas

Integritas berkaitan erat dengan karakter. Tipe suami/istri seperti apa yang kita inginkan harus tercermin sejak saat kita berpacaran. Kadang-kadang godaan duniawi mengaburkan apa yang sebenarnya kita inginkan. Misalnya saja, aktor/aktris drama Korea yang terlihat romantis dan lucu mungkin akan membuat kita menginginkan pasangan yang seperti mereka, padahal itu hanyalah akting dari skenario/script yang dikarang. Ada juga pandangan stereotip masyarakat, misalnya harus menikah pada umur 25 tahun, sehingga membuat kita ingin cepat menikah untuk memenuhi pandangan itu, agar tidak dicap aneh. Untuk itu, kita harus betul-betul tahu apa yang kita mau, apa yang dapat dikompromi dan apa yang tidak.

Karakter yang dimaksud di sini adalah yang esensial dan memengaruhi kualitas hubungan kita dengan si doi. Tidak dapat dipungkiri bahwa tidak ada orang yang hanya memiliki karakter positif/sempurna. Setiap orang pasti selalu memiliki karakter positif dan negatif. Oleh karena itu, unsur positif dan negatif harus dilihat secara seimbang, agar kita menjalin hubungan dengan orang yang tepat. Contoh karakter positif yang harus dilihat dari pasangan ialah cara dia memperlakukan dirinya sendiri dan orang lain, kerja keras, dan ketangguhannya dalam menghadapi kesulitan hidup. Lalu, karakter negatif yang harus dipertimbangkan, misalnya apakah dia suka mengeluhkan hal-hal kecil, tipikal orang yang egois, dan penuh drama (drama queen/king).

Penting untuk diingat bahwa sebelum kita menentukan seperti apa karakter pasangan yang kita inginkan, kita harus terlebih dahulu mengenal diri sendiri. Dengan begitu, kita bisa tahu siapa diri kita, kelebihan dan kekurangan kita, dan orang seperti apa yang dapat mengimbangi kita. Kalau terasa susah, bawalah hal ini dalam doa agar Tuhan menunjukkannya kepada kita. Amatilah karakter calon pasangan dengan baik karena akan dicontoh oleh anak-anak kita kelak ketika kita telah menikah.

 

  1.   Kecocokan (Chemistry)

Kecocokan (chemistry) antara laki-laki dan perempuan tidak hanya melibatkan ketertarikan seksual. Kecocokan yang baik juga mengenai kemampuan untuk saling terhubung pada setiap aspek yang mungkin: perasaan bahwa kita dimengerti, didukung, dan diterima apa adanya. Kecocokan sangat diperlukan dalam sebuah hubungan dan tingkat kecocokan yang kuat akan membuat hubungan tumbuh semakin kuat juga. 

Oleh karena itu, kita tidak dapat menjalin hubungan dengan seseorang yang tidak dapat kita percayai karena hubungan itu nantinya akan dipenuhi dengan rasa curiga dan cemburu, bukan kasih. Pasangan kita juga haruslah seseorang yang membuat kita nyaman berada di sekitarnya, seseorang yang membuat kita menikmati saat-saat bersamanya. Bayangkan jika pada masa pandemi ini, kita harus karantina bersama seseorang yang tidak memiliki kecocokan dengan kita. Kecocokan yang baik antara kita dan pasangan akan membuat kita dapat mengkomunikasikan banyak hal.

 Untuk menemukan kecocokan ini, syaratnya adalah kenali calon pasangan kita dengan sungguh-sungguh sebelum memutuskan menjalin hubungan. Ambil waktu yang cukup untuk saling mengenal dengan baik. Tidak usah terburu-buru karena pacaran adalah proses penjajakan kemungkinan menikah. Ketika nanti sudah menikah dan anak-anak kita pergi merantau, hanya ada kita dan pasangan yang harus menghabiskan waktu bersama setiap hari, mengobrol berdua setiap hari dengan topik yang mungkin itu-itu saja. Kita pastinya tidak mau salah pilih pasangan untuk seumur hidup, kan?

************************************* 

Nah, Sobat TOB, semoga sekarang kamu menjadi lebih jelas dan mantap dalam memilih pasangan, ya.. Tidak ada yang mustahil jika kita menyerahkan proses ini kepada Tuhan, tentunya sambil tetap berusaha dan berdoa. Carilah seseorang yang akan berjalan beriringan denganmu untuk semakin dekat kepada Tuhan. Selain mencari pasangan yang tepat, kita juga perlu berusaha menjadi pasangan yang tepat bagi calon pasangan kita. Bersabarlah terhadap diri sendiri karena pacaran merupakan proses yang panjang hingga akhirnya kita memutuskan akan lanjut ke jenjang pernikahan atau tidak.

Tidak perlu berkecil hati jika sampai sekarang kamu belum menemukan seseorang yang cocok karena waktu Tuhan adalah yang terbaik. Teruslah mencari Tuhan dan kerjakan Firman-Nya agar hubunganmu dengan pasangan tidak menjadi batu sandungan bagi hubunganmu dengan Tuhan. Selamat berproses! 🙂

 

Tim Teologi Tubuh

Diambil dan diadaptasi dari video pengajaran oleh Kris Frank pada TOB Virtual Conference, Mei 2020.