Blogs
01/10/2020
  • Share this

Bertunangan (V): bersepakat (biasanya diumumkan secara resmi atau dinyatakan di hadapan banyak orang) akan menjadi suami istri (KBBI).

 

Pertunangan adalah momen di mana sepasang kekasih yang telah merajut cinta akhirnya akan melangkah ke tahap yang lebih serius. Hubungan yang tadinya mungkin hanya intens antara dua insan, kini akan melibatkan 2 keluarga besar. Hubungan yang tadinya mungkin tidak diketahui banyak orang, kini akan dinyatakan di hadapan banyak orang. Sebagian orang sangat menantikan momen ini dan tidak ingin berlalu begitu saja. Sebagian orang, mungkin untuk pertama kalinya, akan tampil di hadapan keluarga pasangannya.

Namun, beberapa tahun belakangan ini kita dikagetkan dengan berita beberapa public figure yang batal menikah padahal telah menggelar acara pertunangan yang megah. Dekorasi yang cantik, kostum buatan desainer kondang, senyum indah saat saling memasangkan cincin tunangan, ternyata tidak menjamin langkah besar itu sampai ke titik pernikahan. Ya, tunangan bukanlah titik aman. Masih ada kemungkinan untuk batal menikah, entah beberapa bulan sebelum hari H, H-1 hari pernikahan, bahkan mungkin saat sedang berdiri di depan Altar.

Sobat TOB, saat kita memutuskan bertunangan dengan seseorang itu artinya kita dengan mantap dan sadar memilih si doi sebagai teman hidup untuk selama-lamanya. Pada tahap tunangan, entah nanti kita sampai ke titik pernikahan dengan dia atau tidak, kita biasanya sudah membayangkan kehidupan rumah tangga seperti apa yang akan kita bangun bersamanya. Tiffany Dawn, Pembicara dan Penulis Buku “The Insatiable Quest for Beauty” and “Boycrazy” dalam siaran Youtube “5 Questions to Ask Before You Get Engaged | Christian” mengatakan setidaknya ada lima pertanyaan refleksi yang harus kita tanyakan pada diri sendiri sebelum memutuskan untuk masuk dalam status calon suami-istri itu. Yuk, kita lihat apa saja lima pertanyaan kunci sebelum memutuskan bertunangan ala Tiffany Dawn berikut ini:

 

1.    Apakah dia menghargai sudut pandangmu?

Kita mungkin merasa sudah mengenal pasangan kita dengan baik selama masa berpacaran, begitupun sebaliknya. Namun, tidak ada salahnya jika sekali lagi kita merefleksikan lebih dalam tentang hubungan kita sebelum memutuskan bertunangan dengannya. Kenali lagi kepribadiannya. Pasangan yang baik adalah yang dapat menghargai sudut pandang satu sama lain. Sudut pandang ini macam-macam bentuknya, misalnya pandangan politik, gaya hidup, keluarga dan pertemanan, hobi, dan lain-lain. Sudut pandang yang berbeda, yang mungkin kita anggap sepele, dapat memicu pertengkaran jika kita tidak dapat mengatasinya dengan baik.

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam konteks ini, yaitu seperti apakah pasangan kita adalah seorang pendengar yang baik dan bagaimana dia menanggapi cerita kita, atau apakah dia benar-benar memperhatikan kecemasan/keberatan kita dan berusaha menyesuaikan diri. Beberapa hal kecil seperti tanggapannya terhadap tempat liburan yang kita sukai dan bagaimana kita meluangkan waktu bagi keluarga dan teman juga perlu diperhatikan dari diri pasangan kita. Kalau dia adalah orang yang dapat menghargai pendapatmu, besar kemungkinan kamu tidak salah pilih.

 

2. Apa yang aku cari dalam perkawinan ini?

Ini adalah pertanyaan skakmat. Kalau kita belum tahu apa yang kita cari dalam perkawinan, sebaiknya pikir-pikir lagi untuk bertunangan. Jangan sampai nanti si doi sudah mantap mau menua bersama kita, tetapi kita sendiri belum tahu apa yang kita mau. Meskipun tunangan belum tentu akan menikah, kita tidak boleh memanfaatkannya sebagai momen uji coba kesiapan. Bertunangan dengan dasar tekad yang kurang kuat hanya akan melukai banyak pihak, termasuk diri sendiri.

Setiap orang memiliki motivasi menikah yang berbeda-beda. Ada yang mencari soulmate, seseorang yang dapat mereka pandangi tiap saat dengan mesra, menghabiskan banyak waktu bersama; dengan kata lain perkawinan yang romantis. Beberapa orang lainnya menikah karena ingin memiliki partner hidup, misalnya dapat saling melengkapi dalam urusan pekerjaan rumah dan bekerja sama untuk mencapai tujuan pernikahan mereka. Ada juga yang mencari teman hidup atau pasangan rasa sahabat dan melakukan banyak hal seru bersama.

Bagaimana dengan kita? Apa yang kita cari dalam perkawinan haruslah sesuai dengan apa yang dicari oleh pasangan kita. Kita dan si doi harus tahu jawaban masing-masing dan melihat kembali kemungkinan melanjutkan ke biduk pernikahan. Mungkin kita menginginkan banyak waktu bersama dengan pasangan, tetapi si doi lebih suka mengajak kita hangout bersama teman-temannya. Tidak apa-apa jika berbeda, asalkan kita mau saling mengerti dan menyepakati solusi yang adil.

 

3.    Apakah masih ada hal yang belum aku ceritakan padanya?

Ada beberapa hal yang biasanya sulit kita ceritakan kepada semua orang, misalnya mengenai masa lalu, latar belakang keluarga, dan hal-hal memalukan yang pernah kita lakukan. Hal-hal yang menurut kita buruk dan memalukan memang cenderung kita pendam sendiri. Namun, jika masih ada rahasia di antara kita dan pasangan, coba tanyakan pada diri sendiri, mengapa kita tidak menceritakan hal itu kepadanya? Apakah karena kita merasa tidak penting untuk diceritakan, atau merasa insecure akan ditinggalkan jika dia tahu keburukan yang sudah kita simpan rapi selama ini?

Sobat TOB, sangatlah penting untuk membuka perbincangan yang jujur antara kita dan pasangan sebelum masuk ke tahap bertunangan. Keputusan untuk bersikap jujur tentang hal-hal buruk yang telah terjadi di masa lalu sebenarnya bukanlah tentang tanggapan pasangan kita nantinya, melainkan tentang seberapa kuat hal itu memengaruhi diri kita. Bukan kejujuran yang akan berdampak buruk pada hubungan kita dan doi, melainkan ketidakjujuran. Poin ini menyangkut rasa saling percaya, keterbukaan dan transparansi satu sama lain sebelum menjadi satu dalam ikatan pernikahan. Seandainya pasangan ternyata tidak dapat menerima masa lalu kita, rasanya mungkin lebih lega jika kita berpisah baik-baik sebelum bertunangan. Menjalani tahap bertunangan sambil memikul beban rahasia juga pasti terasa tidak nyaman dan tidak ada sukacita di dalamnya.

 

4.    Tanpa ketertarikan seksual, apakah aku masih mencintainya?

Sering kali kita terjebak pada daya tarik fisik pasangan kita. Wajah rupawan, bentuk tubuh proporsional, atau mungkin jago kissing-nya. Penampilan luar menjadi magnet kuat antara kita dan dia. Tarik menarik saling mengagumi satu sama lain. Memang tidak dipungkiri bahwa penampilan fisik berpengaruh kuat terhadap ketertarikan kita pada pasangan, dan sebaliknya. Ditambah lagi jika ada unsur cerdas, ceria, dan cekatan dalam dirinya. Rasanya kita telah memiliki seseorang yang sempurna, yang tidak boleh kita lepaskan.

Namun, tanpa ketertarikan seksual, tanpa daya tarik fisik, masihkah kita mencintainya? Ini adalah tolok ukur seberapa kuat fondasi hubungan kita. Cinta yang murni adalah tetap mencintai dan tetap ingin berada di samping si doi meski sudah tidak ada lagi daya tarik fisik padanya seperti saat kita pertama kali bertemu. Pastikan yang kita cintai adalah dirinya, apa adanya dia sebagai seorang pribadi yang berharga di mata Tuhan. Pastikan pasangan kita adalah seseorang yang jika nanti telah menua, beruban, dan keriput, kita tetap ingin bersamanya setiap hari, mencintainya meskipun dia sudah tidak cantik/tampan lagi.

 

5.    Apakah aku bersedia memberikan diri 100% dalam perkawinan ini?

Pertanyaan refleksi terakhir, tetapi yang tidak kalah penting, yaitu kesediaan memberi diri 100%. Di dalam hidup pernikahan tidak ada jalur putar balik. Sekali kita berjanji setia sehidup semati di hadapan Tuhan, janji itu akan kita pegang selamanya. Ada investasi waktu, tenaga, pikiran, perasaan, dan pengorbanan di dalamnya. Oleh karena itu, kesediaan memberikan diri sepenuhnya bagi pasangan adalah syarat wajib jika hendak memutuskan bertunangan dan menikah.

Pernikahan tidak akan berhasil jika tidak ada pemberian diri 100% dari kita dan pasangan. Kita menikah karena kita tahu apa yang kita mau, tetapi ingat bahwa pasangan kita pun memiliki harapannya sendiri. Kita tidak bisa hanya mencari apa yang kita mau, dan mengabaikan pencarian pasangan kita. Kita tidak bisa berhenti mencintai si doi ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita mau. Jangan menjadi orang yang pasif dan menunggu, tetapi jadilah seseorang yang selalu mencari peluang untuk dapat memberikan sesuatu dalam pernikahan kita. Semakin kita tidak memikirkan diri sendiri, semakin baik jalannya perkawinan kita.

 

**************************

Nah, itulah 5 pertanyaan refleksi yang dapat kita terapkan mulai sekarang, sebelum memutuskan untuk bertunangan. Pertanyaan refleksi di atas berlaku bagi kita dan sang pasangan. Berlaku jujurlah pada diri sendiri. Jika sudah yakin untuk bertunangan, katakan YA. Jika tidak yakin, komunikasikan kepada pasangan kita dan cari solusi bersama. Jangan ragu katakan TIDAK sebelum salah melangkah. Di sisi lain, terima dan hargailah kejujuran jawaban pasangan. Dan hal yang sangat penting dalam proses refleksi ini adalah selalu melibatkan Tuhan. Jawaban dari Tuhan mungkin tidak akan datang dalam semalam, tetapi jika kita terus mengetuk pintu surga lewat doa, kita akan mendapatkan jawaban-Nya.

 

Tim Penulis TOB

 

Materi diambil dan diadaptasi dari siaran Youtube : 5 Questions to Ask Before You Get Engaged | Christian

Tiffany Dawn, Pembicara dan Penulis Buku “The Insatiable Quest for Beauty” and “Boycrazy”