Blogs
15/06/2020
  • Share this

Berapa banyak di antara kamu yang merasa bangga menjadi seorang perempuan? Yang kamu banggakan itu, apakah karena kamu bisa melakukan semua pekerjaan yang dilakukan oleh laki-laki atau karena keunikan sisi femininmu?

Perempuan sering dianggap sebagai kaum yang lebih lemah daripada laki-laki. Sebagai kaum yang lebih lemah, perempuan harus selalu patuh kepada laki-laki dan tidak mempunyai hak menyatakan pendapatnya. Ada juga yang mengatakan bahwa tempat perempuan itu di dapur bukan di kantor. Anggapan-anggapan ini membuat banyak perempuan merasa gerah dan melakukan aksi protes karena sering mendapatkan perlakuan yang tidak adil dalam kehidupan bermasyarakat. 

Sobat TOB, ketika Allah menciptakan bumi dan segala isinya, Ia mengatakan bahwa semuanya itu baik. Namun, pertama kali Allah mengatakan ada sesuatu yang “tidak baik” adalah karena Adam hanya seorang diri saja (Kej 2:18), dan karena itulah Hawa diciptakan sebagai penolong yang sepadan untuk Adam. Hawa menjadi puncak karya penciptaan bumi dan isinya. Kehadiran Hawa membawa sukacita tersendiri bagi Adam, sehingga ketika melihatnya, Adam berkata “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki” (Kej 2: 23).

Sebagai gambar dan rupa Allah (Kej: 26-27) yang merupakan persatuan antar pribadi-Nya (communio personarum), manusia tidak diciptakan untuk hidup hanya seorang diri saja, tetapi dalam relasi dengan sesamanya. Sebagai sosok yang sepadan bagi laki-laki, perempuan membawa peran atau misi khusus dari Allah, yaitu untuk menolong, memelihara dan menghibur. Baik misi laki-laki maupun misi perempuan bertujuan untuk saling melengkapi, sehingga keduanya sepadan bagi satu sama lain (baca juga: http://www.teologitubuh.com/2020/06/08/kamu-wajib-tahu-3-misi-allah-bagi-laki-laki/). Perempuan memiliki kekuatan dan ketangguhan yang sama dengan laki-laki, tetapi dibalut dalam kelembutan dan keindahan. Sisi feminin perempuan yang lembut dan indah menyempurnakan sisi maskulin laki-laki yang kuat perkasa. Keduanya mencerminkan kekuasaan Allah yang tak terbatas. Peran perempuan ini juga menggambarkan Allah yang menolong, menghibur, dan memelihara

Yuk, kita lihat seperti apa misi Allah bagi perempuan:

 

Perempuan sebagai Penolong

Perempuan tidak menjadi penolong yang biasa-biasa saja, tetapi penolong yang sepadan. Untuk itu, tidak berlebihan jika Allah memberikan kemampuan multitasking dan daya inisiatif yang tinggi bagi perempuan untuk menjalankan misi ini. Sebagai penolong yang sepadan, perempuan mampu mengimbangi kemampuan dan kecepatan laki-laki. Perempuan mampu melakukan pekerjaan yang dilakukan laki-laki. Namun, seperti namanya, penolong adalah orang yang menolong. Maka, kamu hanya boleh menolong saat pasanganmu atau orang lain memerlukan dan menginginkan pertolongan.

Menolong bukan berarti mengambil alih peran atau tugas orang lain secara keseluruhan. Allah ingin kamu dapat mengimbangi misi pemimpin pada diri laki-laki, bukan mendominasinya. Percayalah bahwa setiap orang memiliki kesanggupan mengerjakan tugasnya sendiri. Berikanlah pertolongan yang efektif tanpa membuat pasanganmu atau orang lain merasa terintimidasi dengan kemampuanmu. Jadilah penolong yang tetap menghormati dan menghargai orang lain. Daya multitasking dan inisiatifmu harus digunakan dengan bijak, agar terciptanya hidup yang harmonis.

Oleh karena itu, pada saat kamu tergerak untuk menolong pasanganmu atau orang lain, berpikirlah sejenak dalam hatimu: Apakah orang tersebut memang memerlukan pertolongan? Pertolongan apa yang dapat kamu berikan? Kapan waktu yang tepat untuk memberikan pertolongan? Tanyakanlah dahulu kesediaan mereka atas pertolongan yang hendak kamu berikan. Jika mereka menerimanya, lakukanlah apa yang bisa kamu lakukan. Namun, jika mereka menolak tawaran pertolonganmu, terimalah penolakan itu dengan ikhlas. Kamu tetap bisa menolong orang lain melalui doa-doamu. Belajarlah menjadi seorang penolong yang sepadan dari kisah hidup St. Monica. Ia menjadi penolong keluarganya dalam kebutuhan jasmani dan rohani, yang akhirnya menghantarkan mereka sekeluarga memperoleh mahkota kehidupan di Surga.

 

Perempuan sebagai pemelihara

Misi perempuan sebagai pemelihara bermaksud agar perempuan dapat merawat, memelihara, dan menjaga orang lain. Misi ini menggambarkan Allah yang selalu memelihara umat-Nya dalam kebaikan. Dari dalam lubuk hatinya, perempuan memiliki keinginan untuk memastikan orang lain berada dalam keadaan yang baik dan sehat. Misi sebagai pemelihara disempurnakan dengan adanya rahim pada tubuh perempuan. Rahim adalah tempat yang aman dan nyaman bagi seorang manusia baru sebelum terlahir ke dunia. Maka, sangat masuk akal jika Allah mengharuskan laki-laki memperlakukan perempuan dengan baik dan penuh kasih karena semua laki-laki pernah hidup dalam rahim perempuan.

Namun, menjadi pemelihara tidak berarti kamu berhak mengontrol kehidupan orang lain agar memenuhi ekspektasimu sendiri. Kamu hanya boleh menjadi peduli, bukan posesif. Ingatlah bahwa tidak semua orang suka diperhatikan dan tidak semua orang siap menerima curahan kasih sayang yang banyak. Selain itu, memberikan perhatian yang terlalu banyak akan membuat pasanganmu atau orang lain menjadi manja dan sangat bergantung padamu. Lakukanlah segala sesuatu menurut porsinya. Lakukanlah apa yang bisa kamu lakukan tanpa harus memaksakan diri sendiri dan orang lain. Berilah kasih sayang yang tulus tanpa mengharapkan imbalan. Orang lain bisa merasakan ada atau tidaknya ketulusan dalam tindakan pemeliharaanmu.

Misi ini memerlukan kekuatan yang besar dan hati yang tulus. Untuk itu, jalinlah relasi yang baik dengan Allah, agar melalui perhatian dan pemeliharaanmu, orang lain dapat mengalami kasih Allah yang besar. Terimalah juga pertolongan dari pasanganmu atau orang lain saat kamu kelelahan. Sehebat apapun kamu menjalankan misi ini, kamu tetap perlu laki-laki sebagai pelindung dan sesama perempuan sebagai pemelihara. Kamu dapat meniru cara hidup Ruth, yang berhasil menjadi pemelihara bagi mantan mertua dan keluarga barunya. Ruth dekat dengan Allah, sehingga dia dapat mengasihi dengan tulus dan dikasihi oleh keluarganya.

 

Perempuan sebagai Penghibur

Menjadi seorang penghibur artinya perempuan berkeinginan untuk membahagiakan dan meringankan beban hati orang lain. Perempuan memiliki kepekaan perasaan yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki, sehingga menjadi mudah prihatin dan berempati terhadap kesusahan orang lain. Perempuan akan secara spontan menghibur orang lain yang terlihat sedih. Mereka berharap kehadirannya dapat membawa sukacita bagi orang lain. Banyak perempuan sering menyembunyikan kesedihannya agar orang-orang di sekitarnya tidak ikut sedih. Laki-laki harus tahu, bahwa jika ada perempuan yang selalu terlihat ceria, itu tidak berarti dia selalu baik-baik saja.

Menghibur orang lain bukan berarti harus menyenangkan mereka dalam semua hal. Kamu mungkin akan merasa tidak tega melihat pasanganmu sedih, tetapi kamu tidak harus menghiburnya dengan melayani permintaannya melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Kamu mungkin ingin selalu ada bagi sahabatmu yang sedang patah hati, tetapi kamu tidak perlu mengiyakan ajakannya ke klub malam untuk mencari kenalan baru. Kamu harus bisa membedakan mana yang menghibur seturut kehendak Tuhan dan mana yang akan menjerumuskanmu ke dalam dosa. Kamu harus bisa tegas menolak memberikan penghiburan-penghiburan yang tidak benar dan tidak kudus.

Kalau kamu ingin berhasil menjalankan misi sebagai penghibur, kamu harus akrab dengan Allah Roh Kudus. Roh Kudus adalah Penghibur yang dijanjikan Yesus bagi kita. Belajarlah dari Pribadi Roh Kudus yang lemah lembut dan selalu menuntun ke arah yang benar. Asahlah hatimu agar tidak mudah terbawa perasaan prihatin yang salah. Kalau kamu pernah merasakan damai penghiburan dari Allah, seperti itulah yang Allah inginkan bagi orang lain melalui para perempuan.

***

Dengan demikian, perempuan dan laki-laki memiliki nilai yang sama di hadapan Allah. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Perbedaan misi antara perempuan dan laki-laki harus dipandang sebagai keunikan gambaran Allah pada setiap individu. Apakah kamu sudah menjalankan misimu untuk menolong, memelihara, dan menghibur? Apakah kamu sudah terlebih dahulu menerima sisi femininmu, atau masih sibuk menyaingi sisi maskulin laki-laki?

Semoga kini kamu semakin bisa mengenali dirimu dan misi penting dari Allah. Terimalah sisi femininmu karena itu tidak tergantikan oleh apapun. Kelembutan dan keindahanmu adalah gambaran rupa Allah, bukan suatu kelemahan yang harus ditolak. Kamu tidak perlu lagi membanding-bandingkan dirimu dengan laki-laki karena peran kalian memang berbeda. Kamu juga tidak perlu lagi merasa minder dengan sesamamu perempuan karena kalian punya misi yang sama. Sebagai penolong, pemelihara, dan penghibur, para perempuan harus bersatu agar misi itu dapat membuat orang melihat Allah dalam dirimu.

Misi yang diberikan Allah bertujuan untuk membawa semua orang kepada Kebenaran, maka bergeraklah sesuai tujuan-Nya. Apakah kamu siap menjadi penolong, pemelihara, dan penghibur yang sepadan? Apakah kamu siap menjadi perempuan sejati?

Penulis: Tim Teologi Tubuh