Blogs
08/06/2020
  • Share this

Apakah kamu masih ingat kisah penciptaan manusia pertama di bumi?

Adam adalah manusia pertama; ia seorang laki-laki. Allah memberikannya kuasa atas bumi dan segala isinya. Mula-mula Allah menciptakan segala binatang hutan dan burung di udara, lalu membawa mereka kepada Adam agar ia melihat dan menamai mereka semua. Setelah Adam menamai mereka semua, ia menemukan bahwa tidak ada yang sepadan baginya di antara segala binatang tersebut. Ketika Allah melihat bahwa tidak baik Adam sendirian saja, Allah bermaksud menciptakan seorang penolong yang sepadan baginya. Kemudian, Allah membuat Adam tidur nyenyak dan menciptakan Hawa, yang dibentuk-Nya dari tulang rusuk Adam. Ketika melihat Hawa, Adam berkata “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” Sejak saat itulah Adam tahu bahwa ia telah memiliki seorang penolong yang sepadan (bdk Kejadian 1-2).

Sobat TOB, pada saat Allah menciptakan laki-laki dan perempuan, Allah juga memberikan misi atau panggilan khusus bagi mereka. Misi Allah bagi laki-laki adalah sebagai pemimpin, pelindung, dan penyedia, sedangkan misi perempuan sebagai penolong yang sepadan, penghibur, dan pemelihara. Baik misi laki-laki maupun misi perempuan, semuanya mencerminkan gambaran Allah, Sang Pencipta.

Pada kisah Adam, ia sadar bahwa tidak ada penolong yang sepadan baginya di antara segala binatang yang hidup dengannya di Taman Eden karena ia telah terlebih dahulu tahu dan mengenal dirinya: siapa dia, struktur fisik yang dimilikinya, kapasitas sebagai laki-laki, misi yang diberikan Allah baginya, dan penolong seperti apa yang dia perlukan. Tentu, tidak ada binatang yang memiliki kapasitas diri yang sama seperti manusia. Pertanyaan bagi kaum Adam zaman now ialah apakah kamu sudah terlebih dahulu mengenal dirimu sendiri sebelum mencari penolong yang sepadan? Apakah kamu sudah tahu misi hidupmu dari Allah?

 

Laki-laki sebagai Pemimpin

Pemimpin adalah orang yang memimpin sebuah grup, organisasi, atau negara. Daya kepemimpinan pada laki-laki akan muncul secara natural, tanpa bermaksud mengabaikan keberadaan perempuan. Para perempuan yang belum tahu tentang misi pemimpin dalam diri seorang laki-laki, mungkin cenderung menganggap laki-laki sebagai orang yang egois dan suka mendikte. Sebaliknya, kalau laki-laki sendiri belum tahu misinya ini, mungkin akan sering takut bertindak karena tidak mau dicap egois. Padahal, kemampuan memimpin yang dimiliki laki-laki menggambarkan citra Allah sebagai Pemimpin.

Menjadi seorang pemimpin bukan berarti kamu bisa bebas menyuruh orang sesuka hati, memaksakan kehendak, dan mengintimidasi orang lain dengan kekuatanmu. Pemimpin yang dikehendaki Allah adalah seseorang yang memimpin dirinya dan orang lain ke arah yang benar, dan berani berkorban. Sama seperti Allah yang selalu memimpin umat-Nya kepada Kebenaran dan merelakan Anak-Nya yang tunggal wafat di salib yang hina, demi menebus dosa-dosa kita. Menjadi pemimpin berarti menjadi teladan dalam setiap perbuatan, misalnya mendahulukan kepentingan orang lain, bertanggung jawab, dan tidak malu meminta pertolongan kepada orang lain saat dirinya menghadapi kesulitan.

Namun, untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, diperlukan latihan dan proses yang panjang. Pertama-tama, bangunlah relasi yang baik dengan Allah, agar kamu dapat memimpin dirimu sendiri terlebih dahulu ke dalam kekudusan. Kemampuan memimpin tidak ditunjukkan melalui kata-kata manis saja, tetapi juga melalui perbuatan nyata dan pengorbanan diri. Ajaklah pasanganmu berdoa bersama, jangan mengobrol saat misa, dan jalanilah relasi yang sehat dan kudus dengan pasanganmu. Jika banyak orang di sekitarmu mulai mengikuti cara hidupmu yang benar, artinya kamu telah berhasil menjalankan misimu sebagai pemimpin. Kamu bisa mencontoh kepemimpinan Musa, saat ia memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir menuju ke Tanah Terjanji. Pada saat itu, Musa tidak bertindak sebagai pemimpin yang kejam, tetapi sebagai pemimpin yang melayani bangsanya dan mengutamakan kepentingan mereka di atas kepentingannya sendiri.

 

Laki-laki sebagai Pelindung

Gambaran diri Allah yang melindungi dan membela umat-Nya juga dikaruniakan kepada laki-laki. Misi laki-laki sebagai pelindung ditandai dengan adanya keinginan akan keamanan dan keselamatan bagi orang lain. Akan tetapi, belum semua laki-laki menyadari misinya sebagai pelindung. Masih ada laki-laki yang tidak peduli dengan keselamatan dirinya sendiri dan orang lain, sehingga membuat perempuan mengambil alih peran ini. Dunia yang semakin keras menuntut kehadiran laki-laki sebagai pelindung agar terciptanya kehidupan yang aman dan damai sejahtera.

Akan tetapi, melindungi tidak sama dengan mengekang. Dengan menjadi seorang pelindung, bukan berarti kamu harus selalu ada dengan pasangan/anak/kakak/adikmu selama 24 jam, mengontrol semua aktivitasnya, atau telpon dan chat setiap saat. Pelindung tidak mengambil kebebasan orang lain. Seorang laki-laki yang sadar akan misinya sebagai pelindung, akan berusaha melindungi pasangannya dan orang lain dari hal-hal buruk. Kamu bertindak melindungi karena ada rasa ingin melindungi dari dalam hatimu. Kalau kamu tidak menyadari misi pelindung yang Allah tanamkan dalam dirimu, gambaran Allah sebagai pelindung tidak dapat terlihat di dunia.

Hal yang bisa kamu lakukan sebagai pelindung bagi pasanganmu dan orang lain, misalnya tidak ngebut di jalan saat bepergian bersama, dan tidak membiarkan orang lain melakukan hal yang buruk dengan sengaja. Seorang pelindung juga tidak menempatkan orang lain dalam situasi yang berbahaya, menakutkan, dan berdosa. Sikap seorang pelindung dapat kamu tiru dari St. Yosef. Kamu bisa mengikuti teladan St. Yosef yang selalu melindungi Bunda Maria dan Yesus dari ancaman bahaya di sekitarnya. 

 

Laki-laki sebagai Penyedia

Selain sebagai pemimpin dan pelindung, laki-laki juga membawa misi sebagai seorang penyedia. Artinya, laki-laki mewarisi gambaran kekuatan Allah yang sanggup menyediakan segala sesuatu bagi umat-Nya. Laki-laki bertanggung jawab untuk menyediakan kenyamanan bagi orang lain, mendahulukan kepentingan orang lain, dan berusaha memenuhi kebutuhan orang lain sesuai dengan kesanggupannya. Misi ini perlu disadari oleh laki-laki agar tidak ragu-ragu dan ikhlas hati saat menjalankannya. Ketika seorang laki-laki menjalankan misinya sebagai penyedia, hal itu tidak mencoreng citra dirinya sebagai pemimpin yang kuat dan hebat, tidak membuatnya tampak lemah. Malah sebaliknya, kaum perempuan akan merasa nyaman bersama laki-laki yang siap dan sanggup menyediakan hal-hal yang tidak terpikirkan olehnya. 

Namun, menyediakan bukan memanjakan. Kamu perlu berhati-hati dengan porsinya agar tidak membuat orang lain terlalu bergantung pada dirimu. Seorang penyedia juga tidak memegang kendali penuh atas hidup orang lain. Setiap orang berhak untuk berusaha dalam hidupnya. Misalnya, ketika kamu menjadi seorang suami, kamu bertanggung jawab atas segala kebutuhan istri dan anak-anakmu. Akan tetapi, bukan berarti istrimu tidak boleh melakukan sesuatu untuk menolongmu dalam usaha pemenuhan kebutuhan hidup keluarga. 

Jadilah seorang penyedia yang sigap dan adil. Kamu bisa mulai dari keluargamu, dengan menjadi laki-laki yang rela berkorban untuk keluarga atau menggunakan kekuatanmu untuk menjadi penyedia bagi keluargamu sendiri. Berhentilah mengeluh, terima rasa lelahmu dengan sukacita, dan tetaplah menjadi penyedia meskipun rasanya berat. Belajarlah dari sosok Yesus, yang sangat jelas menampakkan misi ini dalam hidup-Nya di dunia.

Jadi, wahai para lelaki, coba lihat ke dalam dirimu sendiri. Apakah selama ini kamu sudah menyadari misi pemimpin, pelindung, dan penyedia yang Allah tanamkan di dalam dirimu? Memang bukan misi yang mudah, tetapi sangat mungkin dilaksanakan karena Tuhan yang memberi, Tuhan juga yang akan menolong. Usahamu menjalankan tiga misimu akan menentukan pelaksanaan tiga misi perempuan karena saling berkaitan dalam usaha membawa keselamatan bagi semua orang. 

Kamu akan melalui proses memikul salib dan menyangkal diri, tetapi ingatlah bahwa Yesus pun melaluinya saat membawa misi keselamatan bagi kita. Kuncinya adalah mau membuka hati terhadap tuntunan Roh Kudus. Kamu adalah pewaris gambaran Allah yang mampu memimpin, melindungi, dan menyediakan. Siapkah kamu menjalankan tiga misi Allah tersebut? Siapkah kamu menjadi laki-laki sejati?

 

“God has assigned as a duty to every man the dignity of every woman” – St. Pope John Paul II

“Tuhan telah menugaskan kepada setiap laki-laki (untuk menjaga) martabat setiap perempuan” – St. Paus Yohanes Paulus II

 

Penulis: Tim Teologi Tubuh