Blogs
07/06/2020
  • Share this

Apa yang Harus Dilakukan Jika Saya Sudah Tidak Perawan atau Perjaka?

ANA: 24 tahun. Cantik. Mandiri. Berasal dari keluarga Katolik yang taat. Professional banker. Tinggi dan berat badan proporsional. Ramah. Bisa berteman dengan siapa saja. Tidak sombong. Cerdas. Bisa main musik. Punya suara merdu. Jago masak. Seorang wanita Katolik yang taat. Belum menikah. Tidak perawan karena pernah terbuai oleh rayuan sang mantan kekasih.

FRANS: 29 tahun. Jago basket dan renang. Tampan. Tinggi. Family man. Pengacara muda yang sukses. Gentleman yang diimpikan banyak wanita. Murah hati. Punya hidup doa yang baik. Tegas. Setia. Mandiri. Berasal dari keluarga Katolik yang taat. Belum menikah. Tidak perjaka karena pernah terbuai pornografi yang berujung pada one night stand dengan wanita yang bukan kekasihnya.

Ana dan Frans adalah orang muda yang memiliki banyak talenta dan kepribadian yang baik. Mereka sukses dalam pekerjaan, punya banyak bakat, dan hidup sebagai orang muda Katolik yang taat. Namun, mereka pernah punya masa lalu yang kelam, yang membuat mereka kehilangan keperawanan atau keperjakaannya sebelum menikah. Kadang-kadang, intimidasi menyerang sangat kuat terhadap orang-orang yang sudah tidak perawan atau perjaka lagi, sehingga merasa diri hina dan kotor walaupun sekarang sudah bertekad untuk menjalani hidup yang baru.

Mungkin kamu memiliki kemiripan kisah dengan Ana dan Frans. Mungkin, kamu pernah merasa sangat ingin dicintai dan takut kehilangan, sehingga kamu dengan rela hati memberikan keperawananmu kepada sang mantan yang akhirnya pergi begitu saja. Mungkin juga, kamu pernah merasa bosan dengan aktivitas, sehingga kamu menonton tayangan pornografi sebagai hiburan, yang akhirnya membuat kamu tidak bisa menahan dorongan nafsu yang muncul.

Kalau hari ini kamu merasa malu, frustrasi, putus asa, hina, dan jijik terhadap diri sendiri karena dosa masa lalu itu, semoga melalui artikel ini, kamu bisa menemukan pencerahan dan semangat menata hidup kembali.

Di dalam Kitab Kejadian, kita melihat bahwa Tuhan menciptakan manusia baik adanya (Kejadian 1:26-31). Bukan hanya baik, tapi juga kudus, karena diciptakan dalam gambar dan rupa Allah sendiri. Manusia diciptakan Tuhan dengan memiliki tubuh dan roh dalam kesatuan yang unik tidak terpisahkan. Hasrat seksual yang dimiliki tubuh manusia juga tidak buruk, karena dengannya kita bisa tertarik dengan lawan jenis dan memiliki keturunan. Semua kebaikan yang diciptakan Tuhan memiliki satu tujuan, yaitu kasih yang memberikan diri, yang memikirkan apa yang baik bagi orang lain. Namun, manusia jatuh ke dalam dosa. Sejak jatuh ke dalam dosa, manusia memiliki kecenderungan untuk mengambil, mempergunakan orang lain untuk kepentingan diri sendiri. Salah satunya adalah untuk kesenangan seksual. Karunia kekudusan tubuh menjadi tercemar dan ternoda.

Ada orang-orang yang kemudian mengatakan bahwa hubungan seksual sebelum perkawinan itu sah-sah saja, selama dilakukan suka sama suka. Namun, kalau mau jujur, seandainya pun tidak terjadi kehamilan—yang merupakan konsekuensi dari hubungan seksual—perilaku ini meninggalkan rasa bersalah, jijik, dan hina terhadap diri sendiri, takut memulai hubungan cinta lagi, atau depresi. Semua perasaan ini, jauh di dalam, sebenarnya memberikan tanda bahwa kita tahu kalau martabat kita yang tinggi sudah direndahkan, karena tubuh kita digunakan oleh orang lain. Kita menjadi objek pelampiasan nafsu orang lain. 

Kalau sudah terlanjur melakukannya, lantas bagaimana? Apakah kehilangan kekudusan tubuh artinya hidup kita sudah berakhir? Tidak! Hidupmu masih belum berakhir dan masa depan cerah masih membentang luas bagimu. Seperti Tuhan yang memberikan matahari bagi orang yang benar dan tidak benar, maka akan selalu ada harapan buat kamu. Yang paling penting adalah kamu mau BERANI AMBIL KEPUTUSAN untuk menjemput harapan baru. Ada beberapa hal yang dapat kamu lakukan untuk memulai hidup baru dalam kekudusan, yaitu:

#1 Akui kesalahan di masa lalu dan bertobat

“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Lukas 5:32).

         Kesalahan di masa lalumu memang meninggalkan luka. Kabar baiknya, luka itu bisa sembuh. Mulailah dengan mengakui kesalahanmu dan terima kenyataan tentang dirimu yang sekarang. Benar, kamu pernah sangat salah, tetapi itu sudah terjadi dan waktunya sudah berlalu. Kamu sekarang hidup di masa kini. Penyesalan yang berlarut-larut takkan mengembalikan keperawanan atau keperjakaanmu yang sudah hilang. Bangkit dan bertobatlah dengan sungguh-sungguh. Carilah pastor di gereja dan mintalah Sakramen Tobat. Mulailah berdamai dengan Tuhan dan dirimu sendiri.

#2 Beranikan diri untuk katakan TIDAK pada intimidasi apapun

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:20).

         Kondisi kehilangan keperawanan atau keperjakaanmu sebelum menikah tidak dapat dimaklumi oleh semua orang. Kamu mungkin akan mendapatkan komentar dan perlakuan buruk dari orang-orang di sekitarmu yang membuatmu patah semangat. Kamu juga mungkin akan diintimidasi oleh iblis yang tidak suka melihatmu menjauhi dosa, misalnya dengan bisikan dalam hati bahwa kamu tidak berharga, jelek, rusak, dan menggodamu masuk lagi dalam dosa. Jika hal ini terjadi, kuatkanlah hatimu dan abaikan semuanya. Katakanlah pada dirimu sendiri dengan suara lantang: “Ya, benar aku sudah tidak perawan/perjaka lagi. Benar, aku pernah berdosa berat. Tetapi Tuhan Yesus sudah menyelamatkanku dan aku tidak punya urusan apapun lagi dengan masa laluku itu. Aku yang sekarang berjalan bersama Yesus dalam terang-Nya.” Kamu bisa mengulanginya sampai merasa tenang kembali.

#3 Pastikan kamu berada di lingkungan yang tepat

“Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara” (Amsal 18:24).

         Karena kamu sudah tahu rasanya berhubungan intim, maka kamu mungkin akan merasa ketagihan atau mudah tergoda lagi. Maka, mulailah beralih ke lingkungan yang positif agar kamu mudah move on. Carilah lingkungan yang bisa mendukung perubahan dan pertobatan kamu, seperti komunitas rohani, bukan teman-teman yang bergaya hidup bebas. Bila perlu, mintalah pendampingan dari orang yang kamu anggap lebih dewasa secara rohani yang bisa mendukungmu dalam doa dan nasihat. Abaikan intimidasi perasaan bersalah karena meninggalkan lingkungan lama kamu dan teman-teman di dalamnya. Ingat Firman Yesus untuk berjaga-jaga karena roh memang penurut, tetapi daging lemah.

#4 Buat kamu yang masih single, beri waktu untuk diri sendiri sebelum punya pasangan lagi

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33).

         Kondisi tidak perawan/perjaka memang tidak mengurangi kadar kecantikan/ketampanan kamu, tetapi bukan berarti kamu harus buru-buru punya pasangan lagi, lho. Manfaatkanlah momen single untuk lebih mengenal Tuhan dan dirimu sendiri. Perbaiki hidup rohani kamu, misalnya berdoa, baca Kitab Suci, ikut pelayanan gereja, rutin mengikuti Ekaristi, dan rutin menerima Sakramen Tobat. Kamu juga bisa mengambil beberapa kursus, mengembangkan hobi, berolahraga, bangun pagi, solo travelling dan mengeksplor potensi diri kamu agar semakin tahu karunia apa saja yang telah Tuhan berikan selama ini. Kalau kamu menjadi jomblo dalam hidup rohani yang kuat, kamu akan bisa merasakan indahnya hidup sendiri tanpa merasa kesepian, persis seperti Adam saat belum ada Hawa di sisinya. Lalu, sebelum memutuskan punya pasangan lagi, kamu harus sudah bisa mengampuni dirimu dan mantan pasanganmu ya.

#5 Buat kamu yang sudah punya pasangan, jujurlah kepadanya tentang kondisimu

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8).

         Tujuan pacaran adalah menikah, maka kamu harus bisa jujur kepada pasanganmu tentang kondisimu agar hubungan kalian sehat. Pengakuan ini bukan dilakukan untuk ketenangan batinmu semata, melainkan terutama untuk kebahagiaan pasanganmu. Hubungan yang kalian jalani haruslah berdasarkan kesadaran dan penerimaan bersama agar nantinya kalian bisa hidup bahagia dalam perkawinan Katolik yang bebas, total, setia, dan berbuah. Mengungkapkan kondisi kamu yang sudah tidak perawan/perjaka kepada pasangan mungkin akan menjadi pergulatan batin yang hebat di dalam dirimu, maka berdoalah memohon rahmat Tuhan agar kamu berani melakukannya. Mintalah petunjuk dari Tuhan, agar Tuhan yang sediakan waktu dan tempatnya. Kalau kamu berjalan bersama Tuhan, Ia akan selalu memegang tanganmu dan mempersiapkan hatimu untuk menerima respon apapun dari pasanganmu nanti. 

#6 Jagalah komitmen dan disiplin diri

Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Matius 7:13-14).

Pertobatan dan usaha perubahan dirimu akan sia-sia saja jika tidak ada komitmen dan disiplin diri di dalamnya. Berusahalah sekuat tenaga untuk tidak masuk lagi dalam gaya hidup bebas yang pernah kamu jalani. Meskipun kamu telah kehilangan keperawanan/keperjakaanmu, kamu masih punya kesempatan menjalani hubungan yang sehat dan kudus hingga saat menikah nanti. Carilah pasangan yang mau sama-sama berusaha menjaga kemurnian karena menjaga kemurnian dalam hubungan itu bukan cuma usaha satu orang saja.

Kalau pasanganmu mencoba mengajakmu masuk dalam dosa itu lagi, mungkin kamu harus mempertimbangkan kembali hubunganmu itu. Analogi sederhananya ialah begini: kamu sudah tahu bagaimana rasa sakitnya di awal, masa kamu mau mengulanginya lagi dari nol? Kalau perubahanmu masih terasa susah, andalkanlah selalu Roh Kudus. Roh Kudus adalah Pribadi Allah yang terdekat denganmu dan siap sedia menolong dengan cepat jika kamu membutuhkan-Nya. 

         Nah, sekarang semoga kamu sudah merasa lebih lega dan siap ambil keputusan untuk berubah. Dibandingkan dengan satu kondisi tidak perawan/perjakamu saat ini, kamu punya lebih banyak kelebihan yang bisa kamu syukuri dan kembangkan. Mulailah berfokus pada kelebihan itu. Ibaratnya, nasi sudah menjadi bubur, dan sekarang kamu punya pilihan untuk menangisinya atau mengolahnya kembali menjadi bubur yang layak dimakan. Percayalah bahwa kamu adalah seseorang yang spesial dan berharga di hadapan Tuhan. Napas yang masih kamu miliki saat membaca artikel ini adalah bukti cinta Tuhan kepadamu.

“Kita bukanlah akumulasi dari kelemahan dan kegagalan kita. Kita adalah akumulasi dari kasih Bapa bagi kita, dan kapasitas kita yang sebenarnya adalah untuk menjadi gambar Putera-Nya, Yesus” (St. Yohanes Paulus II).

Tim Penulis Teologi Tubuh