Blogs
25/04/2020
  • Share this

Sudah dua tahun berlalu sejak aku mengikuti seminar “Love, Sex & Dating” oleh Teologi Tubuh Indonesia di Bali. Love and lust adalah materi seminar yang paling nampar aku saat itu. Selama ini, keduanya samar-samar bagiku. Tetapi hari itu, aku bisa merefleksikan apa yang sudah kulakukan selama ini. Love atau cinta adalah pemberian diri, sedangkan lust atau nafsu adalah memanfaatkan pemberian diri orang lain. Cinta menjadikan pasangan sebagai subjek, tetapi nafsu menjadikan pasangan sebagai objek. Cinta menjadikan diri sendiri sebagai pribadi yang layak bahagia, tetapi nafsu menjadikan diri sebagai budak cinta demi penerimaan dari orang lain.

Aku mengingat semua pelukan, gandengan tangan, ciuman, perhatian, dan hal lainnya yang telah aku berikan dan terima dari pasanganku. Betulkah kami saling memberikan diri dan memperlakukan satu sama lain sebagai subjek dalam hubungan kami saat itu? Apakah aku benar-benar rela hati menjadi pasangannya? Apa yang sudah kulakukan dan sudah kuberikan selama ini? Benarkah aku memberinya cinta, atau aku hanya punya nafsu ingin memilikinya? Benarkah dia subjek dalam hubungan kami, ataukah hanya objek yang telah berhasil kumenangkan hatinya?

Ketika dia kecelakaan, sungguhkah aku khawatir akan keadaannya, atau hanya khawatir tidak punya siapa-siapa kalau dia tidak selamat?

Ketika dia tidak ada kabar, benarkah aku khawatir ada sesuatu yang buruk terjadi padanya, atau khawatir tidak ada yang mencari-cariku?

Ketika dia berhasil, benarkah tawaku keluar karena saat itu dia berbahagia, ataukah tawa puas merasa keberhasilannya disebabkan oleh diriku yang selalu mendukungnya?

Ketika dia menatapku dan bilang “aku mencintaimu”, benarkah senyum manisku adalah jawaban atas perasaan yang sama, atau hanya rasa puas karena dia sudah tergila-gila kepadaku?

Ketika aku memberi perhatian kepadanya, apakah benar itu karena peduli, ataukah aku hanya takut dia kekurangan perhatian lalu pergi meninggalkanku?

Ketika aku menggandeng tangannya, apakah itu gandengan rasa sayang ataukah ancaman agar dia tahu dia tidak boleh macam-macam di belakangku?

Ketika aku memeluknya, apakah itu terasa hangat karena cinta atau hanya ingin dia tahu bahwa akulah pemiliknya?

Ketika aku menciumnya, apakah itu pemberian diriku yang tulus, ataukah hanya supaya dia tahu bahwa aku juga jago ciuman seperti mantan-mantannya?

Semakin dalam materi itu dibahas, aku hanya bisa melihat aku dalam hubungan kami. Tanpa dia. Tanpa kami. Hanya ada aku. Aku dan keinginanku. Aku dan keenggananku untuk sendiri. Aku yang mau bahagia. Aku yang mau orang tahu kalau aku punya pacar. Aku yang mau dia selalu ada untukku, tetapi dia tidak boleh marah kalau aku tidak ada untuknya. Aku yang suka diberi kejutan ulang tahun, tetapi dia harus sabar kalau aku lupa hari ulang tahunnya.

Aku dan aku. Benarkah aku mencintainya? Oh, well, baiklah, aku katakan saja, aku tidak mencintaimu. Maafkan aku yang telah membuatmu menjadi pajangan saja dalam hidupku selama ini.

Setelah aku paham tentang hal itu, aku bertekad untuk berubah. Aku tidak mau lagi menjadi sumber racun dalam relasiku dengan siapapun. Aku mau jadi pelaku healthy relationship. Terlebih dahulu, aku harus bisa mengasihi diri sendiri sebelum aku bisa mengasihi sesama manusia. Tentu saja aku sadar bahwa semua itu diluar kuasaku. Aku lekat dengan kedagingan dan akan gagal kalau melakukannya sendiri. Aku perlu penolong yang akan selalu menguatkan aku dan sabar dalam membimbingku. Penolong yang luar biasa itu adalah Tuhan Yesus.

Aku mulai memperbaiki relasiku dengan Tuhan Yesus, melalui hidup doa yang lebih serius dan baca Alkitab setiap hari. Eitss, tapi jangan berharap sekarang aku sudah sempurna yah… Aku masih bergulat dengan kedagingan. Namun yang pasti tidak separah dulu, sekarang sudah lebih bisa menghargai diri sendiri dan orang lain. Aku sudah siap untuk punya pacar baru dan tidak beracun lagi

Kalau aku saja bisa, kamu juga pasti bisa!

Oleh: Katrin