Blogs
06/06/2018
  • Share this

Dalam perjalanan sehari-hari, kerap kita menjumpai seorang wanita yang berpakaian mini, bahkan sangat mini sampai menampilkan bagian-bagian yang tidak seharusnya terlihat tanpa berpikir tentang kepantasan, moral, kenyamanan orang lain, dan lain sebagainya. Bahkan teman yang berada bersama mereka entah pacar, teman, atau bahkan keluarga terlihat tidak keberatan dengan keadaan tersebut. Penulis sempat berpikir, bukankah jika mereka sayang padanya, mereka tidak akan mengijinkan orang terkasihnya menjadi konsumsi publik? Lain halnya ketika pakaian tersebut sesuai dengan venue/tempat, misalnya berbikini di pantai/kolam renang, berpakaian seksi di pesta, dan lain sebagainya.

Contoh lainnya dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita pernah mendengar atau bahkan pernah mengatakan baik dengan serius maupun bercanda.., “Mobil yang hanya 5 tahun aja ada test drive, masa yang mau jadi pasangan seumur hidup nggak di test (baca: Sex).” Bayangkan…, tubuh manusia disamakan dengan kendaraan, perkawinan disamakan dengan membeli kendaraan. Padahal lebih dari itu, jika mobil atau kendaraan hanya berupa benda mati yang walaupun sudah tertera semua spesifikasi pada brosur atau dijelaskan sales-nya, terkadang orang masih belum puas sehingga penawaran test drive sangat menggiurkan. Berbeda halnya dengan manusia, walaupun terlihat fisiknya, tertampil kepribadiannya melalui ngobrol dan caranya memperlakukan orang lain, tetap butuh interaksi terus menerus untuk semakin mengenalnya. Manusia itu selalu berubah, berkembang, idealnya ke arah yang lebih baik sesuai dengan tujuan manusia diciptakan. Oleh karena itu, proses adaptasi terus terjadi selama manusia itu hidup.

Pernikahan memiliki makna luhur dan sakral yang sama sekali jauh dari sekedar membeli kendaraan. Dalam membeli kendaraan, interaksi pertama rasanya akan sama seterusnya, sampai bosan, dan ingin menggantinya kendaraan. Sedangkan pernikahan bukan sekedar sex semata, tetapi banyak hal lainnya yang menyatu di dalamnya, kebiasaan, pola pikir, reaksi menghadapi sesuatu, perubahan fisik, mental dan banyak lagi, dan tidak sama sensasinya seperti di awal. Hal yang terpenting adalah bahwa pernikahan sungguh-sungguh melibatkan Tuhan. Pernikahan harus mengacu pada Kristus dan mempelai-Nya, yang adalah Gereja. Kristus mengorbankan diri dan mati di salib demi Gerejanya. Maka pernikahan bukan sekedar simbol persatuan laki-laki dan perempuan melainkan menggambarkan Kristus dan Gereja-Nya.

Mungkin di negara lain, atau bahkan di negara kita sendiri juga ada, tidak jarang kita melihat atau mendengar orang hidup bersama di luar perkawinan atau lazim disebut samen leven, atau kumpul kebo, tetapi apakah itu berhasil sampai perkawinan? bisa iya dan bisa tidak, jika sampai perkawinan apakah awet sampai tua? bisa iya dan bisa juga tidak.

Ada contoh pasangan selebriti dunia, mereka sangat serasi, mesra dan cocok ketika hidup bersama sampai 10 tahun, lalu memutuskan menikah, tetapi ternyata baru menikah beberapa tahun akhirnya mereka bercerai. Jadi sex sebelum menikah tidak menjawab pertanyaan yang akan terjadi setelah menikah. Oleh karena itu, jagalah kesucianmu sampai tiba saatnya. Disadari atau tidak terkadang gaya pacaran kita melampaui yang seharusnya, tetapi baik jika disadari bahwa yang terbaik dari kita seharusnya diberikan kepada suami/istri kita nantinya.

Serius atau bercanda, sengaja atau tidak sengaja, betapa terkadang, tubuh manusia dianggap rendah bahkan oleh dirinya sendiri. Padahal dalam Alkitab dalam 1 Korintus terlihat jelas bahwa tubuh manusia adalah bait Allah.., menghargai Tubuh kita, adalah salah satu cara menghargai ciptaan dan pemberian Tuhan. Please, don’t take it for granted!

Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? (1 Korintus 6:19).

Kontributor: Ermelinda Tara