Blogs
18/11/2017
  • Share this

Keberanian diperlukan ketika akan mengambil suatu keputusan untuk mencapai sebuah tujuan. Salah satu ciri seseorang yang berani adalah bukan tidak merasa takut sama sekali, melainkan mengakui ketakutan yang ada namun tetap melakukannya. Keputusan yang benar lahir dari keyakinan yang kuat, bukan dibuat karena alasan ketakutan.

Kita bisa belajar dari Yesus, mungkin seringkali Yesus digambarkan begitu feminim dalam gambar atau lukisan, tetapi setiap aksi dan tindakan Yesus yang kita baca lewat Kitab Suci adalah tindakan-tindakan lelaki sejati yang begitu maskulin, Dia berani mengkritik para Ahli Taurat dan orang Farisi, yang adalah para pemimpin masyarakat masa itu, Dia berani menyembuhkan orang sakit di hari Sabat, Dia berani membela perempuan yang kedapatan berbuat zinah, meski nyawanya jelas terancam namun dia tetap berani menjungkir balikkan meja-meja penukar uang di Bait Allah dan berkonfrontasi dengan otoritas saat itu, Yesus berani sendirian dalam mencapai tujuan meskipun nyawa adalah taruhannya.

Kitab Perjanjian Lama menyiratkan beberapa julukan bagi Yesus, seperti Singa dari Yehuda dan juga Anak Domba Allah, di satu sisi menggambarkan kekuatan dan di sisi yang lain adalah kelembutan, menggambarkan keberanian yang sejalan dengan kerendahan hatinya. Namun keberanian Yesus bukanlah tanpa perencanaan dan sasaran yang ingin dicapai, sasaran yang ingin dicapainya adalah kehendak Bapa nya di Surga, yaitu keselamatan umat manusia dari kematian kekal.

Di taman Getsemani, dalam kesendirian, Yesus mengakui ketakutannya karena mengetahui bahwa kematian-Nya sudah mendekat, kitab suci menggambarkan dia berdoa sampai berpeluh darah, namun keberanian Yesus jauh lebih besar dari pada ketakutannya, keberanian untuk percaya bahwa Allah tidak akan membiarkannya seorang diri, keberanian untuk membayar harganya sampai lunas di atas kayu salib, keberanian untuk mati bagi dirinya sendiri demi keselamatan umat manusia.

Kontributor: Albert  Suryadi, Sydney РAustralia

Editor: Lidwina Sisilia