Blogs
29/10/2017
  • Share this

Lirik lagu ‘Despacito’ yang di ulas bagian sebelumnya mengacu pada pengertian pornografi yang menggambarkan tubuh manusia dengan aktivitas seksualnya, secara niat eksplisit juga untuk membangkitkan nafsu. Maka, tubuh manusia yang dalam ajaran Teologi Tubuh merupakan sarana mewartakan kehadiran Tuhan, menjadi begitu merosot nilainya karena tubuh manusia menjadi obyek pemuas nafsu seksual semata.

Pada titik ini, lirik lagu yang mengandung unsur pornografi menimbulkan keberatan atas cara bagaimana tubuh manusia digambarkan.
But there are also works of art, and perhaps even more often reproductions, which arouse objection in the sphere of man’s personal sensitivity—not because of their object, since the human body in itself always has its inalienable dignity—but because of the quality or way of its reproduction, portrayal or artistic representation. (TOB 63: 5, 6 May 1981).

Akan tetapi ada juga karya seni dan mungkin bahkan lebih sering merupakan karya ulang, yang menimbulkan keberatan dalam hal kepekaan personal manusia – bukan karena obyek mereka, karena tubuh manusia sendiri selalu memiliki martabat yang tak dapat dicabut – tapi oleh karena kualitas atau cara karya tersebut dibuat, penggambaran atau representasi artistiknya. (TOB 63: 5, 6 Mei 1981)

Paus Yohanes Paulus II telah mengajak untuk merenungkan tentang tubuh manusia melalui ajaran Teologi Tubuh, bahwa tubuh manusia memiliki makna teologis. Tubuh manusia itu menampakkan Allah yang tidak kelihatan atau dengan kata lain, dalam tubuh manusia kehadiran Allah menjadi nyata.

The body, and it alone, is capable of making visible what is invisible: the spiritual and the divine.(TOB 19: 4, February 20, 1980)

“Tubuh sesungguhnya dan hanya tubuh mampu membuat terlihat apa yang tidak terlihat: yang spiritual dan ilahi” (TOB 19:4, 20 Februari 1980).

Dalam terang Teologi Tubuh, tubuh manusia diciptakan dengan memiliki dimensi ilahiah karena manusia diciptakan seturut gambar dan rupa Allah.

Selain tubuh manusia memiliki makna untuk menampakan Allah yang tak terlihat, tubuh manusia memiliki makna nuptial.

That beatifying “beginning” of man’s being and existing, as male and female, is connected with the revelation and discovery of the meaning of the body, which can be called “nuptial.” (TOB 14: 5, 9 January 1980)

Bahwa membenarkan ‘awal’ keberadaan manusia dan keberadaannnya, sebagai laki-laki dan perempuan, berhubungan denganwahyu dan penemuan makna tubuh, yang dapat disebut ‘perkawinan’. (TOB 14: 5, 9 Januari 1980)

Makna nupsial adalah makna tubuh manusia yang mengarah pada pemberian diri yang menyangkut pengungkapan seluruh diri manusia dalam tindakan (mendengarkan, berbicara, menyentuh, perhatian, dll), manusia yang berelasi untuk membentuk persatuan laki-laki dan perempuan dalam perkawinan (suami-isteri).

Kontributor: Ayik Teteki, Faculty TOBIT (Theologi of The Body Insight)

Referensi :
John Paul II, Pope. 1981. GENERAL AUDIENCES: JOHN PAUL II’S THEOLOGY OF THE BODY. Ethical Responsibilities in Art. (https://www.ewtn.com/library/PAPALDOC/jp2tb62.htm). Diakses tanggal 16 September 2017.
John Paul II, Pope. 1980. JOHN PAUL II’S THEOLOGY OF THE BODY : Man Enters the World as a Subject of Truth and Love
(https://www.ewtn.com/library/PAPALDOC/jp2tb18.htm). Diakses tanggal 16 September 2017.
John Paul II, Pope. 1980. JOHN PAUL II’S THEOLOGY OF THE BODY : Revelation and Discovery of the Nuptial Meaning of the Body
(https://www.ewtn.com/library/PAPALDOC/jp2tb13a.htm). Diakses tanggal 16 September 2017