Blogs
24/10/2017
  • Share this

Hal yang ketiga adalah meyakini dan menghidupi jati diri kita sebagai gambar dan citra Allah. Bagi saya hal ini adalah yang paling susah. Paling susah, karena banyak perempuan sering banget ditipu oleh
kebohongan-kebohongan yang membuat kita jadi rendah diri atau kehilangan kepercayaan diri. Kita lupa kalau kita itu diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Kebohongan yang paling sering didengar dari lingkungan di luar diri kita adalah “Cewek tuh yang utama harus fisiknya, biar enak dilihat mata”. Seakan fisik adalah segala-galanya dan seakan fisik bakal bertahan sampai kita mati. Enggak keles. Kalau kita berinteraksi dengan sesama cewek yang cuantik pake banget tapi karakternya tuh buruk juga pake banget, mana mau sih kita dekat-dekat sama cewek itu. Belum lagi omongan orang-orang kalau kita sudah “cukup berumur” tetapi belum menikah. Kebanyakan pasti dikatain perawan tua lah, enggak laku lah. Atau kalau kita sudah menikah tetapi belum dikarunai keturunan pun tetap saja dianggap belum lengkap menjadi seorang perempuan menurut standard mereka. Kebohongan-kebohongan seperti itulah yang sering membuat seorang perempuan lupa akan jati dirinya sebagai gambar dan rupa Allah. Akibatnya sifat dan perilaku kita menjadi bertolak belakang dengan jati diri itu. Kita mulai selalu memakai topeng untuk menyembunyikan jati diri kita yang sebenarnya. Lantas, langkah apa yang perlu kita ambil agar bisa kembali menghidupi jati diri kita sebagai gambar dan citra Allah? Kita harus mulai mencintai dan menerima diri kita apa adanya. Apapun bentuk fisik kita, oleh karena kita adalah puteri -puteri kesayangan Allah, karena itu adalah yang terbaik dari Allah. Setiap perempuan yang memiliki kepercayaan diri akan selalu terlihat lebih cantik. Sungguh.

Lalu yang ke empat adalah setiap perempuan harus menginspirasi sesama lewat panggilan hidupnya. Baik seorang perempuan itu menikah atau berkeluarga atau dia memilih panggilan hidup yang lain, yaitu selibat awam atau menjadi biarawati. Menurut narasumber yang saya tanya, kehidupan selibat awam mau pun biarawati membuat mereka semakin dekat bersatu dengan Allah. Hal ini dikarenakan mereka memfokuskan hidup mereka bagi Allah dan sesama. Perempuan yang panggilan hidupnya menikah pun tentu bisa lebih dekat dengan Allah, melalui perilaku dalam hidup keluarganya. Semakin seorang perempuan mencintai keluarganya, maka dia semakin menampakkan cintanya kepada Allah.

Kalo kamu, para cewek, pengen tahu lebih lanjut cara bagaimana menjadi puteri-puteri kesayangan Allah dan kenapa seorang perempuan adalah puncak keindahan dari ciptaan Allah, mari segera mendaftarkan diri di program ADORABLE EVE nya TOBIT yang akan diselenggarakan setiap hari Senin mulai tanggal 18 September – 13 November 2017 di Wisma Argo Manunggal pukul 19.30 – 21.30. Keterangan lebih lanjut silahkan menghubungi 0818-0690- 0088 atau email ke info@teologitubuh.com

Oleh Lucia Wahyuni, alumni Adorable Eve 2016
Editor: Lidwina Sisilia