Blogs
17/10/2017
  • Share this

Dalam pengalaman kehidupanku, ada beberapa saudaraku yang memilih menikah dengan orang yang memiliki keyakinan (agama) yang berbeda dan mereka hidup berdampingan sampai maut memisahkan. Buatku pribadi, itu bukan menjadi isu yang besar, bahkan dalam perjalanan relasi “pacaran” ku, aku belum pernah punya pacar yang seagama, walaupun buat orangtuaku perbedaaan keyakinan adalah isu besar. Sama halnya orangtuaku, banyak juga keluarga atau pribadi tertentu yang masih menjadikan perbedaaan keyakinan adalah isu besar dalam mencari pasangannya atau pasangan anaknya. Tidak heran jika ada pasangan yang terpaksa berpisah karena perbedaan agama.

“Lalu berkatalah manusia itu: Ïnilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.”Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. (Kejadian 2:23-24)

Berefleksi dari kutipan di atas, seorang laki-laki dan perempuan yang menikah berarti tidak terpisahkan kecuali oleh maut karena mereka sudah menjadi satu daging. Dalam ritual Sakramen Pernikahan pun ditekankan dengan sangat jelas bahwa “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:6). Prinsip ini sangat mendasar dan menjadi inti dari pernikahan dalam Gereja Katolik. Tentu akan menjadi tantangan tersendiri jika sebuah pernikahan dibangun di atas inti yang berbeda.

Pada kenyataannya, kalau sudah cinta, seringkali apapun perbedaan yang ada dapat diterima sebagai suatu yang lumrah, termasuk perbedaan keyakinan atau agama. Zaman sekarang, perbedaan agama, budaya dan lainnya bukanlah masalah karena orang-orang mulai terbuka dengan perbedaan. Kata anak muda sekarang, zaman sudah terbuka teman, urusan agama adalah urusan pribadi masing-masing orang dengan Tuhannya, tiap agama sama kok, mengajarkan kebaikan, kalau lo liat agama tertentu seolah mengajarkan balas dendam, amarah, itu hanya oknum saja yang salah menafsirkan agamanya. Jadi kalau dapat pasangan beda agama santai aja, jalanin aja masing-masing.

“Pernikahan beda agama itu, seperti 2 nahkoda memimpin suatu kapal untuk berlayar, menghadapi lautan tenang, berangin, arus kencang, bahkan badai, jika keduanya dapat saling toleransi maka akan sampai tujuan, tetapi jika yang satu ingin mendominasi yang lainnya, maka bisa saja kapalnya karam”

Mungkin saat ini kita atau teman kita sedang mengalami cinta mentok agama, jika demikian hati kita pasti akan diliputi berbagai kegundahan. Apakah saya atau pasangan saya bersedia menerima perbedaan yang ada? Apakah cinta adalah sebatas perasaan atau cinta adalah suatu keputusan? Jika pilihan ini diambil, apa konsekuensi dan tantangan yang harus dihadapi dalam kehidupan perkawinan beda keyakinan? Sungguh butuh rahmat Allah yang besar untuk menjalaninya.

Cinta tentu bukan hanya sekedar perasaan romantis akan tetapi melibatkan keputusan. Keputusan itu bukan hanya harus diambil berdasarkan rasa yang ada di hati, tetapi diambil berdasarkan pemikiran yang matang, diskusi yang serius, doa yang terus menerus, dan komitmen yang kuat. Oleh karena itu, kita tidak boleh buta karena cinta, karena cinta tidak membutakan. Cinta adalah pemberian dan cinta adalah pembebasan.

By. Ermelinda Tara, komunitas Domus Cordis

(Reviewed and edited by Ika Sugianti – TOBIT Faculty Member)