Blogs
13/10/2017
  • Share this

Skenario #3 : pacaran dengan seorang Kristen non denominasi

“Dia perlu diselamatkan!”

Dalam hubungan ini, biasanya sering terjadi perdebatan karena perbedaan pandangan. Yang ‘kurang kuat’ atau kurang mendalami dalam iman kekatolikkannya, lebih sering diserang dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya ragu akan iman kekatolikannya, kemudian mau berpindah. Ada perbedaan dalam iman Kristen non denominasi dan iman Katolik, walaupun sama-sama mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Akhirnya, hubungan ini biasanya dipenuhi argumentasi dan menjadi sebuah hubungan yang tidak sehat. Hubungan ini biasanya bisa berjalan dengan baik bila salah satu pihak mau pindah ke gereja yang lain atau mau mengalah untuk menerima anak-anaknya dibesarkan dalam gereja yang lain. Disinilah imanmu dipertanyakan, ketika dia bertanya mengapa kamu memilih menghadiri Perayaan Ekaristi yang membosankan itu? Kenapa tidak datang ke kebaktian  gerejanya yang begitu hidup dan diiringi lagu-lagu yang cocok untuk orang muda?

So teman-teman, beberapa skenario di atas adalah gambaran yang perlu dipertimbangkan kalo kamu ada dalam relasi dengan seseorang yang memiliki keyakinan yang berbeda. Mengingat perkawinan adalah persatuan antara dua pribadi, dua pola pikir, dua latar belakang dan pola hidup serta dua keluarga besar. Bahkan ketika seseorang berpacaran dengan sesama Katolik, kita berpikir, “Sempurna!”. Hubungan ini terlihat sempurna. Kalian berdua bisa datang ke gereja yang sama pada hari Minggu bersama dengan keluarga dan sahabat-sahabat. Kalau ditanya oleh orang tua, maka orang tua umumnya tidak akan menentang pacaran dengan yang sesama katolik. Namun, dari pengalaman pribadi saya, terdapat perbedaan yang mendasar juga khususnya bila kamu, seorang Katolik yang taat, berpacaran dengan seorang yang hanya identitas saja. Akhirnya kamu yang harus ‘menyeret’ pasanganmu untuk pergi ke gereja pada hari Minggu. Atau pasanganmu mempertanyakan keaktifanmu di gereja dan membatasimu dalam karya pelayanan. Walaupun sama-sama Katolik, tetapi ketika yang seorang rindu untuk mengenal Tuhan dan yang seorang merasa Tuhan itu tidak penting, terkadang ceritanya bisa terasa sama seperti cerita berpacaran dengan seorang ateis.

Untuk pasangan katolik yang sedang berpacaran perlu merubah cara pandang dalam relasi mereka. Ketika skenario-skenario sebelumnya berfokus pada bagaimana ‘AKU mengubah dia menjadi seiman denganku’, maka buat kamu perlu berfokus pada bagaimana ‘KITA bisa bertumbuh bersama’. Kalian berdua menjadi satu tim yang saling membantu satu sama lain. Pasangan ini berjalan bersinergi menuju satu arah yang sama. Seorang pembicara Katolik terkenal, Jason Evert, mengungkapkannya dengan tepat, “Berjalanlah ke arah Allah dan lihatlah orang-orang di sekitarmu. Mungkin orang yang tepat adalah dia yang berjalan bersamamu.” Ketika kita mengundang Allah untuk ikut campur dalam memilih pasangan hidup, kita diajak untuk belajar mempercayai-Nya. Dan hal ini terkadang terasa penuh ketidakpastian. Sementara kita ingin yang pasti-pasti saja. Kita ingin apa yang mudah kita dapatkan, yang ada di depan mata kita. Ingat, proses memilih pasangan hidup barulah awal dari pernikahan. Apabila kita tidak bisa jujur dari awal akan intensi kita, bagaimana selanjutnya pernikahan itu dapat dibangun? Maka, marilah kita belajar mempercayakan hidup kita kepada Allah dan berjalan bersama-Nya!

Oleh Albert Suryadi, Sydney – Australia