Blogs
11/10/2017
  • Share this

Dear Tinna yang baik,

Sudah beberapa kali aku membaca pesan whatsapp-mu bahkan “mention” mu juga di facebook tentang permohonan untuk membaca kisahku dalam perjuangan melawan tindak pidana perdagangan manusia.

Sejujurnya aku tak pernah satu kali pun menulis tentang hal ini, apalagi membahasnya dalam sebuah tulisan resmi untuk menjadi konsumsi orang banyak. Mengapa? Sebab aku merasa tidak melakukan sesuatu yang luar biasa.  Ini adalah sebuah pemberian diri yang kecil. Sebuah wujud dari panggilan dan tanggung jawab yang memang sudah seharusnya kulakukan , sebagaimana tentunya juga bagi kita semua orang yang beriman,  terlebih aku adalah seorang imam. Oleh karena itu maaf kalau tulisanku ini tidak memuaskan hatimu. Aku lebih senang sebenarnya dirimu datang sendiri ke Batam untuk menyaksikan sendiri lalu menuliskannya sebagaimana  yang engkau lihat dan rasakan.

Perdagangan manusia hampir ada dimana saja. Sejak zaman perjanjian lama sudah ada perdagangan manusia. Ingatkah dirimu akan keserakahan saudara-saudara Yusuf, yang telah membuat Yusuf terjual dengan hina sebagai budak ke Mesir? Atau kalau memang mau disebut perdagangan manusia, betapa rakus dan serakahnya Yudas sampai mau menjual gurunya sendiri dengan tiga keping mata uang perak itu. Kisah-kisah ini ada dalam sejarah iman. Namun tidak berarti perdagangan manusia harus dilestarikan, justru sebaliknya meski kejahatan ini telah ada cukup lama namun harus kita hentikan dengan cara memeranginya.