Blogs
11/10/2017
  • Share this

Di Indonesia bisa dikatakan hampir setiap daerah memiliki kasus perdagangan manusia. Semua daerah kurang lebih modus operandinya sama. Bedanya di Batam lebih terlihat seksi karena Batam adalah tempat “transit” yang berdekatan dengan negara-negara Asia, seperti Singapura, Malaysia , Vietnam dan Thailand. Wilayah perbatasan ini menjadi daya tarik sendiri untuk menjadi ladang perdagangan manusia. Kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan adalah dua alasan umum yang sering membuat orang jatuh dalam lingkaran setan perdagangan manusia. Situasi yang susah, keinginan untuk cepat mengubah status sosial dan ekonomi keluarga telah dimanfaatkan oleh sebagian orang yang tidak bermoral dan bertanggungjawab untuk memperjual-belikan manusia dengan biadap.

Seseorang bisa dijerat dengan berbagai bujuk rayu, yang manis di depan  namun duka di belakang. Mereka ditipu dengan iming-iming sorga, jaminan yang mengelabui mata dan macam-macam hal yang kemudian menjerumuskan seseorang kepada eksploitasi tenaga kerja, seks dan bahkan organ tubuh. Mirisnya, banyak di antara mereka adalah perempuan dan anak-anak di bawah umur. Biarlah aku tak menceritakan kesedihan dan penderitaan mereka sebab terlalu banyak untuk diceritakan dan rasanya tak ada kata yang pas untuk menggambarkan bagaimana penderitaan mereka. Mereka yang telah berhasil kuselamatkan dan dampingi adalah orang-orang yang menderita dan membutuhkan pertolongan. Hari ini cukuplah aku mengatakan kepadamu bahwa entah apapun yang pernah terjadi pada mereka,  peristiwa ini adalah sebuah tindakan yang biadap dan tidak sesuai dengan ajaran iman kita. Gereja menentang kejahatan. Karena ini adalah kejahatan pada kemanusiaan, yang nilainya sangat jauh dari cinta kasih. Kejahatan ini harus kita sikapi bersama dengan iman dan pemecahan yang kristiani.

Setiap orang bisa mempunyai peran masing masing dalam memberantas perdagangan manusia ini. Bila hanya menunggu saja, larut dalam kesedihan dan diskusi yang panjang akan malah membuat kita menjadi tidak berbuat apa-apa. Bagiku, pertama-tama sebagai Gereja harus hadir sebagai orang Samaria yang baik hati di tengah mereka. Seseorang yang tidak hanya melihat, tapi mendekati korban, memeluknya, menuntunnya, memikulnya dan merawatnya sampai ia sembuh. Pekerjaan ini penting sekali bagiku dan itulah yang telah diteladankan oleh Yesus sendiri. Bukan untuk bermegah akan hal yang luar biasa tapi ini harus menjadi sebuah kebiasaan dan sudah seharusnya kita lakukan, kapan pun dan dimana saja. Kitalah yang pertama harus menghadirkan wajah Kristus yang berbelas kasih dengan pergi kepada mereka yang menderita, mereka yang sedih dan terluka. Ikut merasakan penderitaan mereka dan membiarkan kita, sebagaimana perkataan Paus Fransiskus, mau menjadi kotor dalam realitas dunia.

Hanya dengan demikian kita memberi pesan-pesan nyata kepada mereka bahwa Tuhan itu baik, bahwa Tuhan itu menjaga dan melindungi kita semua, bahwa Tuhan itu mencintai kita semua dan Dia ada dimana mana, bahkan saat engkau menderita, saat engkau sedih dan terluka. Dan kalau pekerjaan ini kita sadari sebagai panggilan untuk membagikan belas kasih kerahiman Tuhan, kita akan merasa damai dan bahagia karena bisa mengambil bagian dalam karya keselamatan Tuhan. Setidak tidaknya itulah yang aku rasakan….

Pekerjaan ini masih panjang, sekali lagi ini tak pernah selesai. Jika masih ada orang dengan suka-suka berbuat kejahatan, maka bagiku, aku dan kita semua juga harus suka hati berbuat kebaikan. Aku cukupkan suratku malam ini di sini, lain kali aku sambung lagi.

Terima kasih sudah membuat aku menulis malam ini. Semoga ada iman yang bekerja dan Roh Kudus yang menyempurnakannya saat engkau membacanya.

Salam,

Romo Paschal.

Gereja Katolik Santo Petrus