Blogs
11/10/2017
  • Share this

Tahun 2016 adalah Tahun Kerahiman. Aku menimba pengalaman ziarah 9 gereja. Dan hari itu, seperti mengalami sembilan kali sakramen rekonsiliasi: meleleh karena cinta Allah yang begitu besar mau mengampuni anak-anaknya. Ditambah lagi bisa punya kesempatan untuk bergabung lagi bersama warga lingkungan dengan segala canda tawa, serta kelemahan dan kekonyolan dari masing-masing warga. Semakin melihat tingkah polah warga lingkungan, semakin aku jelas aku lihat diriku dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Aneh, dulu aku paling malas ikutan terlibat di kegiatan lingkungan karena banyak intrik dan politik,namun hari itu lain. Di tempat ziarah terakhir di Ambarawa, aku berdoa minta keberanian dan kelancaran untuk menjawab pertanyaan akan panggilan hidup yang dirasa masih mengawang-awang.

Menikah? Tidak menikah?

Hidup bakti? Atau bagaimana?

Setelah Paskah 2016, aku ikutan kursus spiritualitas Ignatian di paroki, materi pelajaran yang dibawakan tiap minggu seakan menjawab setiap tanya yang muncul di benakku. Ada saat di mana aku melakukan riset panggilan hidup bakti: ordo ke tiga, konggregasi dengan spiritualitas Ignasian, dsb, yang bikin heboh sendiri adalah pas tau kalao fcJ adalah konggregasi hidup bakti wanita yang menghidupi spiritualitas Ignasian, daaaan… salah seorang susternya mengundangku untuk main ke susteran fcJ! Gileee Tuhan, Engkau memberikan sinyal hijau ya?!

Bulan ramadhan 2016 itu tiba, dan aku sudah mulai berpikir untuk nge-trip seorang diri. Tujuannya kali ini adalah Jogjakarta, ke Susteran tempat Sr.Irene fcJ. Aneh bin ajaib, komunikasiku dengan Sr.Irene berbuah sambutan hangat: ijin live in di Susteran Baciro, Jogjakarta, pun didapat. Akupun berangkat sambil terus merasa keheranan seperti lagi mimpi.

Pengalaman live in di fcJ meruntuhkan segala prasangka ku yang salah. Kehidupan suster di sana sibuk, suster-susternya serupa dengan awam namun dengan porsi doa yang lebih banyak. Gaya hidup yang sudah kukenal lama dan tidak terlalu jauh berbeda. Menyenangkan sekali, seperti pulang ke rumah, bertemu dengan banyak kakak perempuan. Saat itu pula banyak pelajaran berharga kuserap, mengenai panggilan suster-suster di sana, mengenai diriku sendiri, dan mengenai seluk beluk keseharian hidup bakti seorang fcJ. Banyak tugas dan refleksi yang perlu kukerjakan setelahnya, yang masih ngutang dan kini masih berjuang untuk kuselesaikan hahaha.

Begitu kembali ke Jakarta, bimbingan rohani itu berjalan dari segala arah, seakan Tuhan Yesus tak ingin aku lupa dan lalai akan tugas refleksi yang kuterima. Lewat romo pendamping komunitas di paroki, lewat sr. Yustina, bahkan dari seorang guru rohani yang kukenal sejak aku SMP dulu, kak Rika! Seorang kakak yang jarang kujumpai tapi selalu seru begitu ketemu dan diajak ngobrol. A funky Christian lady with a purpose.

(Seakan mempraktekkan apa yang tertulis di buku ‘Wake up Princess’ terbitan Flamma Publishing) aku sudah traveling sendirian, pergi dan live in tiga bulan di rumah Cici, mengamati hidup pernikahannya, mengamati hidup pernikahan papa mama, mengamati om tante, dan teman-teman yang sudah menikah, tumbuh sebuah sinyal yang bunyinya,”Aku tak bisa membayangkan diriku bahagia dengan menikah.” “Kok rasanya aku lebih bisa bahagia dengan berbagi dengan banyak orang ya?” “Kenapa kalau di dalam Gereja aku bisa betah berlama-lama diam di sana ya?” “Tuhan, kau mau aku bagaimana?”

Perjalananku memutuskan pilihan cara hidup sesuai rencana Tuhan sendiri, masih terus berlanjut hingga naskah ini ditulis. Aku perlu banyak sabar mengatasi kelemahan diri, kepekaan antena batin mengamati bimbingan Tuhan, dan banyak doa, juga kesetiaan mengerjakan tugas hahaha. Perlu diperjuangkan singkatnya.

Harapanku untuk teman-teman pembaca: tak pernah putus harapan karena Tuhan Yesus sangat mencintaimu dan sangat ingin agar kita semua bahagia lewat panggilannya masing-masing. Menikah, tidak menikah, hidup bakti, semuanya halal dan menyenangkan hati Tuhan. Seperti pesan Romo Vikjen, Romo Samuel yang kudengar lewat siaran radio,”Kalau Anda merasa terpanggil menjalani sebuah panggilan hidup, ceritakanlah kepada sahabat-sahabatmu agar semakin banyak juga orang yang mendukung dan mendoakanmu. Niscaya Tuhan Yesus akan menyertaimu selalu.” Setuju..

by Maria Martha