Blogs
10/10/2017
  • Share this

Kali ini gue ingin membahas ide yang ada di kepala gue mengenai pernikahan. Jujur, gue cukup banyak melihat fenomena kawin-cerai dan menurut gue fenomena itu enggak cuma terjadi di dunia artis saja, tetapi ada juga di sekeliling gue, bahkan gue pernah menemukan pasangan yang menikah secara katholik dalam sebuah sakramen perkawinan memutuskan untuk bercerai. Pernah enggak sih kita mikir, fenomena kawin-cerai itu bisa terjadi karena apa? Awalnya menurut gue fenomena kawin-cerai yang ada di kalangan artis, bisa terjadi karena artis-artis ini lagi butuh popularitas untuk mendongkrak segala sesuatu yang berhubungan dengan keartisannya, seperti: lagu baru, sinetron baru, dan sebagainya, selain popularitas, bisa saja mereka kawin-cerai untuk mencari sensasi karena nama mereka mulai meredup.

Namun, setelah gue ikut Basic Programnya TobiT, pemikiran awal gue itu jadi semakin terbuka, dibalik segala sensasi dan popularitas yang didapat dengan fenomena kawin-cerai, ternyata orang-orang ini adalah orang-orang yang lebih mengutamakan dirinya sendiri, keegoisannya sendiri ketimbang pasangannya, alhasil, pernikahan merekapun gagal. Mereka yang menikah didasari keegoisan diri sendiri umumnya menikah dengan orang yang tidak tepat untuknya, mereka kurang mengenal pasangan mereka dengan baik, sehingga jika ada kejelekan pasangan mereka menjadi senjata untuk bercerai, mereka menganggap segala sesuatu yang tidak menguntungkan bagi mereka merupakan hal yang buruk dan harus segera dihentikan.

Lalu, apa yang bisa dilakukan ketika pernikahan itu sudah gagal? Yang gue pelajari dari Basic Programnya TobiT, hal pertama yang harus dilakukan adalah intropeksi diri, gue menikah karena apa? Apakah karena pasangan gue orang kaya, ganteng/cantik? Karena gue udah dituntut untuk segera menikah oleh sekeliling gue atau karena sesuatu hal yang guepun enggak tahu?

Setelah tahu jawabannya, kita refleksikan jawaban kita itu, agar kita dapat memperbaiki diri, tetapi hal ini enggak cuma berlaku bagi yang sudah gagal dalam membina rumah tangga ya, melainkan bagi semua orang yang memutuskan untuk menikah wajib menjawab pertanyaan ini terlebih dahulu sebelum mengikrarkan janji perkawinan. Pertanyaan apa yang membuat gue pilih pasangan gue harus selalu dijawab terlebih dahulu, agar kita bisa tahu, apa dasar kita memilih pasangan, apakah karena kita mau menjadi penolong yang sepadan bagi pasangan kita (bdk Kej 2:18) atau hanya untuk kepentingan diri kita sendiri? Kalau pertanyaan kita hanya bisa dijawab dengan jawaban yang lebih mengutamakan diri sendiri, lebih baik kita refleksi ulang terhadap pilihan kita, jangan sampai kita menikah dengan orang yang tidak tepat bagi kita. Kebayang dong apa yang bakal terjadi kalau kita menikah dengan orang yang tidak tepat bagi kita? Enggak melulu kita akan mengalami kekerasan dalam rumah tangga, tetapi banyak hal-hal lain yang bisa membuat kita menyesal, mulai dari sebal dengan sifat pasangan kita, sampai kita bisa benci dengan pasangan kita hanya karena hal sepele, pastinya enggak mau dong sampai hal-hal tersebut terjadi saat kita membina rumah tangga, lebih baik kita menunggu sedikit lebih lama untuk menikah dibandingkan dengan orang-orang disekeliling kita, daripada buru-buru menikah dengan orang yang tidak tepat. So, jangan jadikan tuntutan sekeliling kita sebagai dasar kita untuk menikah. Ingat, didalam prinsip agama katholik, enggak ada tuh yang namanya cerai, sebagaimana ungkapan pada saat sakramen perkawinan, ‘Demikianlah mereka bukan lagi dua melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan manusia’ (bdkMat 19:6).

Jadi refleksikan baik-baik alasan kita memilih pasangan kita, pastikan kalau kita benar-benar mencintai pasangan kita dan ingin menjadi penolong yang sepadan baginya.

By. Lucia Wahyuni, Alumi Basic Program