Blogs
09/10/2017
  • Share this

Media sosial saat ini telah mempengaruhi gaya hidup banyak orang muda. Fenomena ini bisa disebabkan karena jauh dalam hati mereka membutuhkan cinta. Setiap orang membutuhkan seseorang atau sekelompok orang untuk memenuhi kebutuhan dicintai dan mencintai.
Contohnya, keperluan akan pengakuan diri dan eksistensi yang instant dalam media sosial mampu memberi kontribusi dalam diri seseorang, artinya membuat kebutuhan cinta orang terasa cukup terpuaskan. Tidak mengherankan bila keberadaan Facebook, Twitter, Linkedln, Google+, dan Instagram menjadi semakin besar dan populer. Para miliader , artis, lajang atau menikah, mereka yang beragama bahkan seorang ateis pun membutuhkan cinta. Namun walaupun seseorang telah memiliki jutaan follower di twitter pun, tidak menjamin bahwa kebutuhan akan cintanya dapat terpuaskan.

Kebutuhan akan cinta yang tidak terpuaskan, mengakibatkan seseorang dapat mengalami kekosongan batin dan membutuh perhatian untuk mengisinya. Mereka bisa mengisinya dengan cara yang salah, seperti yang digambarkan dalam Kitab Galatia 5, yaitu melalui berbagai macam perbuatan atau tindakan kedagingan.

Hati manusia bisa diibaratkan seperti smartphone yang perlu di charge; kembali sehabis banyak dipakai. Hati manusia juga bisa diibaratkan
seperti sebuah tangki air yang selalu perlu diisi dari waktu ke waktu. Tangki cinta seseorang perlu diisi atau di charge; agar dapat mengalami kepenuhan cinta sehingga mampu menyalurkan cinta kepada sesama.

Pengisian tangki cinta dalam hati manusia bisa diperoleh melalui:

  1. Tuhan sebagai sumber dari cinta.
    Rasul Yohanes berkata bahwa Allah adalah kasih, cinta (bdk. 1 Yoh 4: 7-10).
  2. Sesama atau mereka yang dekat dengan kita, seperti keluarga, pasangan, sahabat, rekan kerja dan teman-teman lainnya.
  3. Meluangkan waktu untuk diri sendiri.

Kisah perempuan Samaria dalam Injil Yohanes adalah kisah tentang seorang perempuan yang membutuhkan air. Air yang secara spiritual menggambarkan kebutuhan akan cinta kasih. Setelah perjumpaan pribadi dengan Yesus di pinggir sumur, wanita Samaria itu mendapatkan  pengalaman dicintai dan dipenuhi tangki cintanya. Hasilnya adalah sukacita mengalir dalam dirinya, sampai ia meninggalkan tempayan di pinggir sumur. Bukan karena ia lupa akan tempayannya, tapi karena ia sudah mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari air yang dia perlukan untuk minum. Hasilnya, ia pun dapat menyalurkan sukacita dengan pergi mewartakan Kristus kepada orang lain.

Begitulah dasyatnya kekuatan cinta Yesus dalam sabda-Nya, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal”.

Untuk itu marilah kita berseru, “Jesus, my living water. My life is full of love so I can share it with
others.”

By. Tinna Tanius, Alumni Advance Program 2015

Sumber:
1 https://www.youtube.com/watch?v=ys1hWoUHeKE
2 www.5lovelanguages.com
3 Materi Advance Program TOBIT : Mengenali bahasa cinta
4 “Is Your Love Tank Empty”, oleh Bo Sanchez