Blogs
11/06/2017
  • Share this

 

Gue pernah gagal move on dari mantan pacar. Lebih dari 3 tahun, gue terus dibayangi perasaan untuk ingin balikan lagi. Gue menyesali tahun demi tahun yang sudah dibina. Ada juga perasaan takut untuk memulai  relasi baru dengan cowok lain.  Gue akhirnya menjadi cewek yang sangat pemilih. Gue takut dan kuatir kalo relasi yang baru hanya akan lebih menyakitkan. Bahasa kerennya gegana, sehingga sedikit – sedikit selalu bahas mantan. Ketika berusaha dekat dengan cowok baru selalu mematok standar, apakah dia jauh lebih baik dari mantan atau sebaliknya. Selalu begitu, sampai gue bisa masuk pada fase ikhlas melepaskannya.

Merelakan atau melepaskan disini tentu tidak mudah. Tidak bisa seperti sekali kedip langsung lupa dan pupus harapan. Dalam masa – masa membangun pertahanan untuk tidak ingat -ingat mantan pacar, gue juga masih suka menguntit akun sosial medianya, masih suka cari kabar dan ingin tahu kesibukan terakhirnya apa aja. Sampai kemudian gue ikut arus yang mengatakan bahwa untuk bisa merelakan mantan pacar harus dibantu lewat ganti pacar baru. Ketika akhirnya gue tidak mematok standar mantan untuk membuat kriteria bagi cowok baru, hidup terasa menjadi lebih ringan berjalan. Tentu ini adalah sebuah proses. Gue juga mulai banyak membaca buku self–help, buku renungan-renungan rohani, sampai mencoba berkenalan lewat fasilitas online. Gue lakukan semua itu cuma karena ingin hilang ingatan soal mantan.

Kontributor:  Natalia Setyawati, Pencinta TOB St. Yohanes Paulus II

To be continue.. next posting..