Blogs
26/02/2017
  • Share this

BE JOJOBA

 

Pertanyaan mendesak apa yang sering muncul, kalo kamu single di usia 20-an?

“Mana pacarnya? Kenalin dong.”

“Sombong nih, elo udah pacaran lama, ngak kenalin ke kita-kita.”

… Kalo mendekati usia 30?

“Kapan kawin?” #Eeaaa…

 

Kalo gue lagi hadir dalam pertemuan keluarga besar, entah itu acara tahun baru atau liburan atau bahkan saat ada kerabat meninggal, seriously… bahkan saat di rumah duka, suka ditanya oleh seorang tante, “Mana pacarnya? kenalin dong ke kita.”

“Belom ada, Tante” jawab gue.

“Loh kok belom ada? Cari dong! Mumpung masih muda, banyak-banyak pacaran!”

“Okeh… Apa lu kata deh, Tante…” dalam hati gue nyeletuk sambil garuk-garuk.

Apakah pacaran itu kayak beli baju di toko? Kalo ternyata ngak cocok dipake, tinggal lempar lalu cari yang baru? Mungkin kita pernah memiliki pengalaman seperti ini. Ketika lagi jomblo dikejer-kejer untuk punya pacar. Waktu udah punya pacar, dikejer-kejer untuk kapan kawin.

 

Singkat cerita, hasil dari dikejar-kejar orang dan diburu umur, akhirnya gue berusaha mencari pacar.  Jadilah gue punya  pacar , cewek, dengan usia yang berbeda 7 tahun. Dalam hitungan minggu setelah pedekate, akhirnya kita berpacaran. Seberapa jauh gue mengenal dia dalam hitungan minggu? Lumayan. Gue tahu apa yang dia sukai. Gue tahu progress kuliahnya dan teman-teman, juga aktifitasnya. Gue tahu orang tua dan adik-adiknya. Tapi yang gue ngak tahu adalah soal tahapan berpacaran yang baik itu seperti apa. Langkah-langkah yang masuk akal dan ideal dalam membangun relasi seperti yang dibahas dalam program TOB for Relationship-nya TOBIT itu, ngak pernah gue dengar sebelumnya.

Tidak disangka, relasi gue sama dia berjalan begitu sulit, penuh tantangan dan gejolak. Both of us literally and figuratively bleed! Kisah cinta kita berakhir putus dengan sangat menyakitkan. Sampai hari ini gue ngak pernah bertemu dia lagi. Gue hanya sanggup berdoa semoga dia bahagia. Dari peristiwa itu, gue mencoba berefleksi. Dimana yang salah? Sampai menemukan  ada dua kesalahan yang gue lakukan. Pertama, gue ngak mengikuti aturan bermain yang wajar dalam membangun relasi. Sebagaimana diajarkan soal tahapan-tahapan dalam membangun relasi, yang disebut dengan piramida relasi. Relasi kami terjadi begitu cepat sehingga urutan dalam piramida relasinya jadi terbalik-balik.  Kami langsung masuk pada tahapan yang di ujung lancip-nya, sehingga pastilah kami terjatuh.

Kedua, gue secara mental ternyata belum siap. Satu hal yang gue pelajari dari program-program Teologi Tubuh, bahwa syarat awal dan ngak boleh dilupakan dalam membangun relasi,  yaitu menjadi seorang single yang happy! Kata orang Jojoba alias jomblo-jomblo bahagia. Ini sangat benar! Kita ngak bisa memberi apa yang kita tidak miliki. Kalo tidak,  alih-alih kita memanfaatkan orang lain untuk kepuasan diri kita sendiri. Gue ngak bahagia sebagai jomblo makanya gue mencari pacar, Tujuannya supaya gue bahagia. Tidak heran kalo kisah cinta gue jadi pahit. Tapi kisah cinta gue bukan satu-satunya yang pahit. Banyak orang juga punya kisah cinta yang pahit. Karena banyak orang  juga hanya fokus kepada dirinya sendiri. Padahal seharusnya kita mulai dulu dengan berfokus pada Tuhan. Berfokus menemukan apa yang Tuhan inginkan dari hidup kita di masa jomblo ini.

Dari pengalaman pahit itu dan dan lewat mempelajari Teologi Tubuhnya Santo Yohanes Paulus II, gue bisa memahami beberapa hal penting yang perlu diakukan saat masih jomblo. Jadilah pribadi yang bahagia saat masih jomblo. Lakukanlah apapun yang kamu mau, yang positif tentunya.  Jelajahi dunia kalo memungkinkan. Bertemanlah dengan sebanyak-banyaknya orang. Lebih baik jomblo tapi bahagia daripada punya pacar dan berantem setiap hari, bukan? Sesudah kamu bahagia dengan dirimu, bahagia dengan hidupmu dan relasimu dengan Tuhan, barulah kamu cari pacar. Bukan kah begitu lebih baik daripada punya mantan, yang tiap kali mengingatkan laksana ada pisau menari di hati? Lebih baik punya mantan terindah yang dibawa ke pelaminan, bukan? So, be the happiest single in the world guys!

 

Kontributor: ReST, Advance Program 2012