Blogs
26/02/2017
  • Share this

Just my personal thought. Pernahkah kita berpikir kalau mantan bisa membuat kita

berkembang menjadi pribadi yang lebih baik lagi?

Katakanlah seperti ini, dulu sebelum kita kenal yang namanya pacar ataupun

mantan, kita mungkin berpikir kalau di dunia yang kita tinggali ini, kita akan

langsung menemukan soulmate kita. Sosok yang kita idam-idamkan untuk menjadi

pendamping hidup. Sosok yang mempunyai kriteria seperti yang kita inginkan.

Namun, sering kali yang terjadi tidak seperti impian itu. Kita harus jatuh bangun

terlebih dahulu, jatuh cinta berulang kali, patah hati berkali-kali, sampai akhirnya

menemukan The One bagi kita. Acap kali, saat kita patah hati, kita diliputi oleh

emosi dan pemikiran negatif terhadap mantan. Entah itu dia sosok yang tidak

setia, dia sudah tidak sayang lagi, dia tidak memiliki hati, sampai dengan perasaan

dendampun akan meliputi kita. Tetapi, pernahkah kita berpikir positif pada saat

kita sedang patah hati? Jujur, saya amat jarang berpikir positif ketika saya patah

hati. Saya lebih banyak berpikir negatif terhadap mantan. Namun demikian,

setelah lewat “masa berkabung” saya berusaha untuk kembali menjadi diri sendiri.

Saya berusaha untuk berpikir positif terhadap mantan maupun kepada diri sendiri.

Saya berusaha untuk menemukan akar masalah mengapa saya sampai putus dengan

dia. Kalau saya melihat kesalahan itu berasal dari diri sendiri, saya akan berusaha

introspeksi dan memperbaiki diri kedepannya, agar kesalahan yang sama tidak

terulang. Namun demikian, jika kesalahan berasal dari mantan, saya menjadikan

itu sebagai pengalaman dan pembelajaran bagi diri sendiri, agar di masa depan

tidak lagi terjebak dan tertipu oleh tipe orang yang sama.

Bagi saya, pengalaman patah hati perlahan-lahan membuat saya berubah. Berubah

untuk tentunya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Saya mulai menyadari bahwa

untuk menemukan soulmate, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kita

berhasil menemukan soulmate, sedikit banyak melibatkan pengalaman kita dengan

mantan. Coba bayangkan, jika kita tidak mengenal mantan, dapatkah kita langsung

menemukan pasangan yang tepat? Mungkin bagi segelintir orang hal tersebut dapat

dilakukan, tetapi pada umumnya, kita berhasil menemukan pasangan yang tepat

karena sebelumnya pernah berhubungan dengan mantan. Kita belajar untuk

mengenali pribadi seseorang dari mantan. Apakah orang itu tulus atau ngak,

apakah orang itu benar-benar mencintai atau hanya memanfaatkan. Apakah orang

itu benar-benar sosok yang kita butuhkan, itu semua dapat kita pelajari dari

adanya mantan. Dari adanya mantan pulalah, kita belajar mengenal bedanya love

dengan lust. Bagi saya, perbedaan antara love dengan lust dapat terlihat jelas

berkat mantan. Sebelumnya, saya tidak dapat membedakan antara love dengan

lust. Tetapi berkat adanya mantan, perlahan-lahan, saya dapat membedakan kedua

hal itu. Bagi saya perbedaan yang paling jelas adalah saat melihat fokus kita dalam

berpacaran. Saya berusaha untuk menganalisa segala pemikiran agar hubungan

dengan pacar benar-benar didasari oleh cinta. Dengan menganalisa segala

pemikiran, saya perlahan-lahan menjadi pribadi yang lebih baik. Karakter dan

perilaku pun perlahan berubah menjadi lebih baik lagi. Semua ini terjadi karena

hadirnya mantan dalam hidup.

 

Kontributor: Lucia Wahyuni, Alumni Basic Program dan Adorable Eve