Blogs
26/02/2017
  • Share this

Terkesan ada energi positif dan negatif yang saling bertolak belakang, bukan?. Di zaman moden ini, banyak orang yang salah kaprah. “Love” tidak lagi ditempatkan bertolak belakang dengan “Lust”, melainkan sebaliknya, “love = lust”.
Kenapa bisa demikian? Salah satunya adalah sumbangan dari media sekuler terutama media-media promosi, yang berhasil menampilkan “lust” yang dibungkus sedemikian rupa menjadi tampilan “love”. Akibatnya, banyak orang menjadi sering terkecoh dengan makna “love” yang sebenarnya.
Ketika seksualitas berubah melulu hanya soal “lust” (nafsu), maka arti “love is giving”, yaitu pemberian diri menjadi berubah makna ke arah “selfisness” (egois), dimana fokusnya pada diri sendiri. Cowok kemudian mulai memandang cewek sebagai obyek untuk memuaskan keinginannya sehingga cewek kehilangan harkat martabatnya untuk dihormati. Atau sebaliknya, cewek yang memandang cowok dengan “lust” dan ingin menaklukkannya, dengan fokus untuk kepentingan atau keuntungan diri sendiri.
Gambaran makna “love” sendiri dimulai saat Tuhan menciptakan cowok dan cewek di Taman Eden. Cowok dan cewek diciptakan untuk memiliki ketertarikan antara satu dengan yang lain. Seksualitas mereka menjadi salah satu bagian dari daya tarik mereka satu sama lain. Puncaknya diwujudkan dalam perkawinan dimana mereka meninggalkan ayah dan ibunya untuk bersatu satu sama lain. Ungkapan “love is giving” antara suami dan isteri ini diwujudkan lewat pemberian diri secara fisik dan lewat seksualitas mereka dalam perkawinan. Dari gambaran tersebut maka menjadi sangat penting bagi cowok dan cewek untuk menjaga diri masing-masing dengan prinsip “no sex before married”. Dengan berpegang pada prinsip itu, bukan berarti kita menekan “lust”. Perlu diingat bahwa ‘lust” juga adalah anugerah dari Tuhan. Namun energi atau dorongan nafsu yang kuat tersebut bila dilatih dengan baik maka akan tertata dan terwujud dengan baik juga, seperti dengan mengalihkannya pada hal-hal yang positif, yang baik dan yang benar.
Begitu juga bagi mereka yang sudah menikah, tidak berarti lalu “lust” bisa diumbar semau-maunya namun juga bukanlah sesuatu yang perlu kita kesampingkan atau abaikan. Perkawinan menjadi sebuah panggilan untuk terus berlatih bagaimana mengubah orientasi “lust“ tersebut menjadi kekuatan besar yang akan semakin menumbuhkan ikatan cinta antara suami dan istri. Bukan dengan alasan sudah menikah lalu menjadi hak semaunya untuk memandang pasangan kita (suami atau isteri) sebagai obyek pemuas nafsu melainkan sebagai undangan untuk memandang pasangan kita sebagai seorang yang memiliki harkat dan martabat untuk kita hargai.
Tantangan besar bagi pasangan suami isteri di dunia modern saat ini adalah bagaimana menghadirkan cinta Tuhan di dalam relasi antara suami dan istri. Sementara di dunia sekuler banyak informasi-informasi yang salah kaprah tentang bagaimana membina relasi yang baik dengan pasangannya. Santo Yohanes Paulus II mengubah cara pandang dunia terhadap perkawinan lewat ajaran “Theology of the Body” (TOB), beliau mengungkapkan keindahan dari Sakramen Perkawinan. TOB mengungkapan keagungan rencana Tuhan terhadap kehidupan perkawinan antara lelaki dan perempuan, dimana seksualitas ditempatkan sebagai relasi yang mulia, yang menggambarkan perwujudan cinta kasih Allah. Ketika pasangan suami isteri sungguh-sungguh mampu menghidupi nilai -nilai dari TOB, maka perubahan awal yang terjadi bukanlah berpikir tentang “selfisness and lust”, tetapi berpikir tentang “self giving and respect each other”.
Kontribrutor: Kusno Adi Marsono, Alumni Advance Program 2011, ayah dari dua putera dan satu puteri.